Kejari Aceh Timur Serahkan Gading Bunta ke BKSDA Aceh

Penyerahan gading Bunta dilakukan di depan Kantor BKSDA Aceh, Banda Aceh. Sepasang gading itu diserahkan oleh Kajari Aceh Timur, Abun kepada Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur menyerahkan barang bukti sepasang gading gajah jinak yang dibunuh beberapa waktu lalu di Aceh Timur yakni Bunta, ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Kamis (24/1/2019).

Penyerahan gading Bunta dilakukan di depan Kantor BKSDA Aceh, Banda Aceh. Sepasang gading itu diserahkan oleh Kajari Aceh Timur, Abun kepada Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo yang didampingi oleh dokter hewan BKSDA Aceh, Taing dan jaksa yang menangani kasus Bunta, Edi Suhadi serta para staf dari kedua belah pihak.

Kajari Aceh Timur mengatakan, penyerahan gading Bunta ini dilakukan setelah proses persidangan terhadap para terdakwa pembunuh Bunta selesai yang kemudian dinyatakan inkrach tanpa banding dan telah para tahanan dieksekusi menjadi narapidana.

"Tinggal kita menunggu mudah-mudahan kalau memang bisa tertangkap yang dua lagi DPO, mungkin ini (gading) akan dijadikan barang bukti lagi nantinya," ujar Abun.

Abun menjelaskan, dijadikannya kembali gading Bunta ini sebagai barang bukti jika kedua DPO lain tertangkap nanti, jika memang belum dimanfaatkan BKSDA dalam artian untuk kepentingan misalnya dimuseumkan atau kepentingan konservasi lainnya.

"Tapi kalau memang sudah dimanfaatkan, tidak perlu juga dihadirkan lagi karena sudah ada tersangka yang sudah inkrach. Ini juga tidak dibutuhkan lagi dalam proses persidangan, makanya kami serahkan kembali ke BKSDA untuk digunakan sebagaimana mestinya," jelasnya.

Dirinya mengaku, kasus pembunuhan satwa liar seperti ini baru yang pertama kali terjadi sejak dirinya menjabat sebagai Kajari Aceh Timur. Namun diakui, sebelumnya hal seperti ini juga pernah terjadi, akan tetapi barang buktinya hilang di pengadilan.

"Untuk masalah dua DPO lagi itu kita serahkan ke pihak BKSDA bersama kepolisian, kami hanya menerima dan menyidangkan berkas perkara yang dilimpahkan," katanya.

Saat ditanya tentang kesulitan yang dialami dalam menyidangkan kasus ini, pihaknya mengaku tak mengalami kesulitan apapun. Hanya saja, salah satu tersangka pembunuhan Bunta sempat berbelit-belit saat dimintai keterangan dan akhirnya hal itu pun dapat terbuktikan serta diakui pelaku.

"Untuk para tersangka itu divonis 4 tahun penjara dengan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan penjara. Untuk saat ini mungkin ini vonis yang paling tinggi di Indonesia. Kita pun berharap agar tidak ada lagi kasus perburuan satwa liar dilindungi ini di Aceh," jelasnya.

Sementara, Kepala BKSDA Aceh mengapresiasi Kejari Aceh Timur beserta pihak lainnya yang telah mengungkap kasus pembunuhan Bunta ini. Bahkan, Dirjen KSDA sendiri telah memberikan apresiasi khusus karena kasus ini merupakan salah satu kasus perburuan satwa liar yang menghasilkan vonis tinggi se Indonesia.

"Ada empat kasus yang saya tau soal perburuan satwa liar dilindungi ini yakni di Riau, Sumatera Selatan, Aceh Selatan dan Aceh Timur ini. Ini vonis yang sedikit lebih tinggi dari Aceh Selatan yang mana vonis 4 tahun dan dendanya full Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan," ungkap Sapto.

Gading ini pun nantinya akan dimanfaatkan untuk kepentingan konservasi, entah itu akan dimuseumkan di Museum Aceh sebagai edukasi kepada masyarakat nantinya atau untuk ke perguruan tinggi yang membutuhkan gading ini untuk kepentingan pendidikan para mahasiswa. Itu semua tergantung arahan Dirjen KSDA.

"Berat gading ini kita belum tahu persis karena belum pernah timbang, tapi mungkin untuk keduanya mencapai 25 kilogram lebih. Melihat usia Bunta yang sudah 35 tahun dengan struktur gading yang begitu kompak, jelas gading ini menurut kita salah satu gading yang memiliki kualitas yang sangat bagus," jelasnya.

Namun, sambung Sapto, pihaknya tentu tak menginginkan adanya kasus perburuan satwa liar apalagi satwa yang dilindungi yang dilakukan masyarakat atau pun oknum-oknum yang tak bertanggung jawab.

Dari sederet kasus kematian gajah yang terjadi selama tahun 2018 yakni sebanyak 11 ekor dengan indikasi pembunuhan 6 ekor gajah, hanya kasus pembunuhan Bunta ini yang sudah terungkap.

Sementara untuk kasus pembunuhan satwa lainnya, hingga kini masih dalam proses penyelidikan seperti di Aceh Timur sebanyak 2 kasus, Pidie Jaya, termasuk di kecamatan Juli, Bireuen yang terjadi kemarin.

"Kita berharap semua bisa terungkap kedepan agar ada efek jera terhadap pelaku dan yang paling penting tidak ada lagi kasus perburuan satwa liar dilindungi di Aceh. Kita berharap dari vonis kasus Bunta bisa jadi pelajaran kepada masyarakat bahwa hukum bisa ditegakkan. Satwa itu perlu dilestarikan," tambahnya.

Penyerahan sepasang gading Bunta yang diperkirakan memiliki panjang lebih dari 1,5 meter ini dilakukan dengan menandatangani surat penyerahan oleh kedua pihak.

Seperti diketahui, Bunta merupakan gajah jinak di Aceh Timur yang kerap membantu menghalau gajah liar kembali ke hutan saat terjadi konflik antara gajah dengan manusia. Bunta dibunuh dan diambil gadingnya oleh para pelaku yang kemudian akhirnya bisa ditangkap.

Penulis:Hafiz
Rubrik:News

Komentar

Loading...