Terkait Pemukulan yang Dilakukan, Ini Kata Kadishub Kota Banda Aceh

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Banda Aceh, Muzakir Tulot

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Banda Aceh, Muzakir Tulot diduga menganiaya keuchik Gampong Lampulo, Samsul Mukhtar, kemarin. Hal itu terjadi di Mushalla Al Falah yang ada di Dusun Malahayati gampong setempat.

Penganiayaan yang berupa pemukulan itu pun terjadi diduga lantaran permasalahan surat menyurat dalam gampong yang tak selesai. Diduga, Muzakir kecewa dengan Samsul sehingga pemukulan itu terjadi secara spontan.

Kasus ini pun dilaporkan Samsul ke Polsek Kuta Alam malam itu dengan didampingi para perangkat gampong beserta warga lainnya yang mengetahui kejadian itu. Polisi pun masih terus menindaklanjuti laporan yang dibuat ini.

Muzakir Tulot yang dikonfirmasi Selasa (15/1/2019) menceritakan hal yang sama seperti yang diceritakan oleh Samsul Mukhtar saat ditemui di Kantor Keuchik Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh kemarin.

Awal permasalahan yang terjadi yakni terkait janji keuchik yang tidak akan menandatangani surat izin menikah untuk anak lelakinya yang tak direstui serta surat pembatalan warisan.

"Semua terjadi spontan, saya kecewa dan merasa dikhianati. Tidak ada terlindas du pikirkan saya untuk melakukan hal itu, kenapa terjadi karena itu akumulasi kekecewaan saya dan saya merasa dikhianati," ujarnya.

Menurut Kadishub Kota Banda Aceh ini, hubungannya dengan keuchik gampong awalnya cukup harmonis. Bahkan, saat Samsul memutuskan untuk naik menjadi keuchik gampong, dirinya mendukung penuh hal itu.

"Namun belakangan bulan Agustus lalu kedekatan mulai terganggu. Berawal dari rencana anak saya yang ingin menikah, alasan tak direstui karena agar dia menyelesaikan S2 dulu dan pernikahan itu ditunda dulu," ungkapnya.

Saran yang diminta Muzakir ke anaknya itu pun tak dituruti sang anak sehingga Muzakir menemui keuchik Samsul untuk meminta agar pihak gampong tidak memberi surat izin menikah kepada anaknya dan memohon agar tidak ditandatangani oleh keuchik.

"Waktu itu saya mohon ke beliau untuk tidak meneken surat NA yang diminta oleh anak saya dan itu berulang kali saya mohon. Bukan karena tidak setuju, tapi agar anak saya selesaikan S2-nya dulu," kata Muzakir Tulot.

Hal itu, sambung Muzakir Tulot, disetujui oleh keuchik. Samsul pun, katanya, sempat meyakinkan Muzakir Tulot agar tidak mengkhawatirkan persoalan itu.

"Waktu itu saya diberi angin surga, bahkan untuk meyakinkan saya beliau bilang anak saya itu sudah dianggap seperti anaknya. Jadi beliau minta saya tidak begitu khawatir," katanya lagi.

Namun, keuchik Samsul dinilai mengingkari janjinya dan telah mengecewakannya. Surat nikah itu pun ditandatangani. "Surat NA itu diteken Sekdes, tapi tanda tangan keuchik gang ditiru Sekdes dan itu atas persetujuan keuchik," jelasnya.

Begitu juga dengan surat perubahan surat wasiat hak warisan yang dibaginya. Surat itu tidak ditandatangani keuchik Samsul. "Saya tanya kenapa surat itu tidak diteken. Spontan saya melakukan tindakan itu," ungkapnya yang menyesal.

Sementara, pihak Polsek Kuta Alam yang menerima laporan dugaan penganiayaan itu pun hingga kini masih menindaklanjuti kasus tersebut. Bahkan menurut Samsul, sejumlah warganya kemarin dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh informasi perkembangan penanganan lanjut kasus dugaan penganiayaan ini dari pihak kepolisian terkait.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Headline

Komentar

Loading...