YARA: FGD Penguatan dan Pemanfaatan Sabang Untuk Diagnosa Pemasalahan

Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bertema 'Penguatan dan Pemanfaatan Kawasan Sabang untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bertema 'Penguatan dan Pemanfaatan Kawasan Sabang untuk Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat' di Hotel Kyriad Muraya, Banda Aceh, Senin (17/12/2018) siang.

Ketua YARA, Safaruddin mengatakan, kegiatan ini dilaksanakan untuk melihat dan mendiagnosa permasalahan di kawasan Sabang yang mana selama hampir 20 tahun ini kawasan ini seperti mati suri.

"Dengan dihadirkannya sejumlah pihak terkait seperti Plt Gubernur Aceh serta pihak BPKS Sabang sendiri, akan diketahui apa yang menjadi permasalahan dan kendala selama ini serta ada masukan agar kawasan ini benar-benar bermanfaat bagi Aceh," ujarnya saat diwawancarai.

Menurut Safar, kondisi kawasan dan BPKS Sabang ini mati suri sejak lama yang mungkin hingga berpuncak saat ini. Apalagi, sejumlah masalah terjadi sehingga diputuskan agar dapat dikaji dan diberikan masukan apa saja yang harus dilakukan kedepannya untuk lebih maju.

"Ini salah satu upaya kita (YARA) mendorong pihak BPKS untuk apa saja hal yang harus dilakukan usai kegiatan ini dan nanti ini kita kawal," kata Safaruddin.

Sejak tahun 2000 lalu, Pemerintah Pusat telah menetapkan Sabang sebagai Kawasan
Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang tertuang dalam UU Nomor 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 2 Tahun 2000. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan kawasan Sabang terletak pada posisi yang strategis.

Pemerintah Indonesia melihat, kawasan Sabang dapat difungsikan sebagai tempat pengumpulan dan penyaluran hasil produksi dari/dan ke seluruh wilayah Indonesia serta negara lain untuk pengembangan industri sarat teknologi yang dapat memberikan manfaat di masa depan yang selanjutnya akan mendorong dan meningkatkan daya tarik serta memberikan kepastian hukum bagi penanam modal asing dan dalam negeri.

"Kawasan Sabang memiliki potensi berbagai sektor yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan seperti yang dimandatkan dalam Pasal 7 UU Nomor 37 Tahun 2000, dimana fungsi kawasan ini meliputi usaha-usaha di sektor perdagangan jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi, maritim dan perikanan, pos dan telekomunikasi, perbankan, asuransi, pariwisata dan bidang-bidang lainnya," ungkapnya.

Dalam memperkuat posisi kawasan Sabang dalam menjalankan fungsi dan perannya,
Pemerintah Aceh juga mengeluarkan regulasi yaitu Keputusan Gubernur Aceh selaku Ketua Dewan Kawasan Sabang Nomor 193/034 Januari 2001 tentang Pembentukan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang hingga Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2010 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemerintah Kepada Dewan Kawasan Sabang.

"Melihat besarnya perhatian dari Pemerintah Pusat dan Pemda, seharusnya kawasan Sabang bisa berkembang pesat sehingga hasil dari potensi yang dimilikinya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan masyarakat. Namun hal
ini belum bisa terealisasi dengan baik sebagaimana yang diharapkan," katanya.

"Kehidupan perekonomian Aceh khususnya Sabang selalu naik-turun sesuai dengan perkembangan zaman. Pelabuhan Bebas Sabang pernah ditutup dua kali yakni pada zaman perang dunia kedua tahun 1942-1970 dan era orde baru tahun 1985. Setelah itu pemerintah pusat mengembangkan Batam sebagai kawasan Freeport," jelasnya.

Pembukaan kembali Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas ini masih menimbulkan berbagai permasalahan, terutama dalam pengelolaannya yang masih menimbulkan berbagai hambatan, sehingga belum mampu membangkitkan perekonomian masyarakat Aceh, khususnya Sabang.

BPKS yang dibentuk sejak tahun 2001 lalu belum maksimal dalam mengembangkan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (KPBPBS-Free Trade Zone). Secara regulasi dan kebijakan pasca terbitnya PP Nomor 83 Tahun 2010 dan berbagai kewenangan perizinan yang telah dilimpahkan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Menteri Perdagangan dan Menteri Perhubungan kepada Dewan Kawasan Sabang (DKS), sebenarnya modal BPKS melakukan akselerasi di bidang investasi, perizinan, logistik dan perdagangan sudah memadai. Meski demikian, sejauh ini masih minim arus investasi baik asing maupun dalam negeri yang masuk ke kawasan Sabang.

"Melihat dari sisi eksternal pengembangan kawasan Sabang, ada isu yang sedang hangat diperbincangkan saat ini yaitu pembangunan Kanal Kra Thailand yang menghubungkan Laut Andalam atau ujung atas Selat Malaka langsung ke Laut Cina Selatan," katanya lagi.

Dengan adanya proyek ini, diproyeksikan akan meningkatkan daya saing pelabuhan bebas Sabang. Hal ini karena Sabang akan dilintasi kapal-kapal dari negara Indochina ke Australia serta Selandia Baru dan sebaliknya. Dampak lain adalah dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi baru, termasuk logistic kapal, perdagangan komoditas ekspor-impor dan lainnya.

Jika Kanal Kra di Thailand bagian selatan sepanjang 102 kilometer telah beroperasi tahun 2025, sambungnya, maka Sabang akan jadi titik penting seperti layaknya Singapura pada pelayan ‘tradisional’.

"Tapi biarpun posisi Sabang strategis pada jalur pelayaran Terusan Kra, wilayah Titik Nol Indonesia tersebut tidak akan didirikan perusahaan pelayaran besar jika tidak ada fasilitas yang setara dengan Singapura untuk keperluan industri pelayanan dunia seperti kapal niaga besar bahkan ada kapal kargo raksasa dan kapal tanker besar (VLCC-very large crude carrier) akan enggan berlabuh di
Sabang," paparnya.

Sekarang, tambahnya, tergantung pada Pemerintah apakah serius dalam melakukan pembangunan infrastruktur kawasan Sabang sebagai Pelabuhan Bebas dan Perdagangan
Bebas bertaraf Internasional.

"Dengan segala latar belakang dan berbagai polemik yang ada di kawasan Sabang ini diharapkan ada ide-ide yang bisa menjadi rujukan sebagai solusi dalam penguatan dan pengembangan kawasan Sabang untuk kesejahteraan masyarakat Aceh," tutupnya.

Penulis:Hafiz
Rubrik:Ekonomi

Komentar

Loading...