Peringatan 14 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh

Refleksi Memperkuat Mitigasi Bencana

Kubah Al-Tsunami

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM – 26 Desember 2004 menjadi waktu yang paling mengerikan dari sejarah bencana di dunia. Bencana tsunami yang menyapu Aceh dan menyeret lebih dari 200 ribu jiwa, tentunya tidak akan pernah dilupakan oleh masyarakat.

Bencana itu juga meluluhlantakkan pesisir Aceh. Dunia ikut berduka, warga dari berbagai negara berbondong-bondong membantu Tanah Rencong untuk bangkit. Konflik bersenjata yang mendera Aceh selama tiga dekade mereda. Namun, Aceh harus terus meningkatkan kualitas mitigasi.

Aceh yang berdiri di atas pertemuan lempeng bumi memang rawan dengan segala bencana. Setelah tsunami 2004, sudah tak terhitung banjir, longsor, dan gempa terjadi. Tsunami 14 tahun lalu juga bukan yang pertama kali menerjang Serambi Mekkah.

Tsunami Aceh juga menggerakkan dunia peduli terhadap mitigasi atau pengurangan risiko bencana. Berbagai negara mulai serius mengurus soal mitigasi. Badan-badan penanggalungan bencana bermunculan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Setelah 14 tahun berlalu, wajah Aceh menujukkan kemajuan pesat disegala lini. Kemajuannya melampaui yang terlihat sebelum tsunami. Hal ini tak terlepas dari semangat pantang menyerah untuk bangkit yang mendarah daging pada diri masyarakat Aceh, ditambah tingginya solidaritas masyarakat dunia dalam membantu.

Namun, Aceh tak boleh terlena. Masih ada pekerjaan rumah dalam hal pengurangan risiko bencana, karena bencana serupa bisa saja terulang di masa akan datang. Hal itu juga kembali diingatkan pada Gempa dan Tsunami Palu beberapa waktu lalu. Jadi, dibutuhkan kesiapan infrastruktur dan kesadaran masyarakat akan mitigasi.

Sejauh ini, Gedung mitigasi dan evakuasi bencana di beberapa daerah sudah ada. Dan ini seharusnya dimanfaatkan oleh pemerintah setempat untuk melakukan mitigasi bencana, dan pemahaman sadar akan bencana pada masyarakat. Hal itu tidak boleh dianggap sebelah mata.

Peringatan 14 Tahun Tsunami Aceh yang jatuh pada 26 Desember 2018 mendatang, masyarakat Aceh harusnya sudah dewasa untuk menghadapi bencana. Apalagi peringatan itu, bukan hanya sebatas seremonial, tapi harus direfleksikan untuk selalu bergerak maju demi Aceh yang sadar akan bencana.

Untuk itu, Pemerintah Aceh melalui Dinas kebudayaan dan Pariwisata Aceh, akan menggelar peringatan 14 Tahun Tsunami Aceh di Halaman Masjid Tgk Chik Maharaja Gurah, Peukan Bada. Masjid itu juga salah satu bangunan yang masih berdiri kokoh saat dihantam gelombang tsunami.

Mengusung tema ‘Bangun Bersama, Siaga Utama’ diharapkan bisa menjadi kekuatan yang bisa menyadarkan masyarakat untuk bisa tetap siap dan sadar akan bencana.

“Peringatan 14 Tahun Gempa dan Tsunami Aceh tahun ini dilakukan secara sederhana. Namun, tidak berarti memperkecil makna dan filosofi peringatan itu sendiri,” kata Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Amiruddin.

Apalagi berbagai kegiatan tentang kegiatan itu juga akan dilaksanakan seperti, upacara, ziarah ke kuburan massal di Ulee Lheue, zikir dan doa bersama, testimoni dari korban tsunami, santunan anak yatim, workshop dan diskusi peringatan resiko bencana. Kemudian, tausyiah sendiri akan diisi langsung oleh Ustadz Abdul Somad.

Sama halnya dengan di daerah lainnya. Peringatan tsunami tetap diperingati, khususnya daerah yang terkena tsunami. Dan dilakukan secara sederhana dengan melibatkan masyarakat dan korban tsunami dengan agenda utamanya adalah zikir dan doa bersama.

Wisata Edukasi

Bekas bencana gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 Silam, kini menjadi kenangan bagi masyarakat Aceh. Gempa dan tsunami Aceh telah menjadi sejarah dunia, sebagai bentuk bukti dahsyatnya Tsunami Aceh.

Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh sudah memugar dan membangun sekaligus memperindah tempat-tempat bekas tsunami sebagai lokasi wisata.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Ramadhani mengatakan, pihaknya selalu mengagendakan sejumlah kegiatan untuk memperingati tsunami Aceh. Kemudian, kata dia, disetiap tempat wisata mengenang tsunami juga diadakan zikir dan doa bersama.

Wisata Tsunami juga sebagai media efektif dalam memperlihatkan kepada masyarakat global (wisatawan) tentang kekuatan, ketahanan dan ketabahan masyarakat selama Tsunami, media berbagi pengalaman bencana dengan wisatawan dan perbaikan ekonomi masyarakat melalui pariwisata.

“Ini tidak hanya untuk mencerminkan tragedi masa lalu, untuk menghargai orang-orang yang mendukung pemulihan Aceh, dan untuk mengendalikan hidup kita untuk pengurangan resiko bencana (PRB) di masa mendatang, tetapi juga untuk mempromosikan Aceh sebagai tujuan wisata memori,” katanya.

Saat ini ada beberapa obyek wisata yang menarik dikunjungi sambil mengenang peristiwa Tsunami di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar, 2004 silam diantaranya, Museum tsunami Aceh, Kapal PLTD Apung, Kubah Al-tsunami, Kapal di atas rumah hingga kuburan massal.

Museum Tsunami, ini dijadikan tempat untuk mengenang kembali peristiwa dahsyat yang pernah melanda bumi Aceh pada Tanggal 26 Desember 2004 silam yang menelan sebanyak 240.000 jiwa.

Bangunan museum ini terdiri dari empat tingkat. Pada lantai dasar museum terdapat ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik. Pada saat memasuki gedung ini, ruang pertama yang akan disinggahi pengunjung adalah ruang renungan.

Dalam ruang ini terdapat sebuah lorong sempit dan remang sekaligus dapat mendengar suara air yang mengalir beserta suara Azan. Pada kiri dan kanan dinding lorong terdapat air yang mengalir, di ibaratkan gemuruh tsunami yang pernah terjadi di masa silam.

Setelah melewati ruang renungan, pengunjung akan memasuki ruang berkaca yang disebut ‘memorial hill’ yang dilengkapi dengan monitor yang digunakan untuk mengakses informasi. Setelah itu, pengunjung akan memasuki ruang ‘The Light Of God’. Yaitu ruang berbentuk sumur silinder yang menyorotkan cahaya reamang-remang. Pada puncak ruangan terlihat kaligrafi arab bertuliskan ALLAH. Pada dinding dipenuhi tulisan nama-nama korban tsunami yang tewas dalam peristiwa itu.

Kemudian, dilantai berikutnya terdapat galeri dokumentasi, hingga tempat penyelamatan darurat/escape building apabila terjadi tsunami lagi di masa mendatang. Apalagi museum tsunami ini menjadi salah satu museum popular pada tahun 2018.

Tak jauh dari Museum Tsunami, pengunjung juga bisa mengunjungi kapal pembangkit listrik tenaga diesel apung (PLTD) Apung yang terletak di Desa Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Panjang kapal ini 63 meter, mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 Megawatt.

Kapal ini berbobot 2.600 Ton. Dengan bobot yang besar itu, sulit membayangkan kapal ini dapat terhempas hingga ke pemukiman penduduk. Namun, faktanya gelombang tsunami mampu menggerakkannya. kapal ini terseret gelombang setinggi sembilan meter. Jalur yang dilalui kapal semuanya lenyap tak berbekas, padahal kawasan tersebut awalnya padat penduduk.

Saat ini, area sekitar PLTD Apung telah ditata ulang menjadi wahana wisata edukasi. Untuk mengenang korban jiwa yang jatuh akibat tsunami, dibangun monumen peringatan. Pada monumen itu, tertera tanggal dan waktu kejadian dari musibah yang juga menimpa beberapa negara selain Indonesia.

Di sekeliling monumen, dibangun dinding dengan relief menyerupai gelombang air bah. Dari atas kapal ini, pengunjung juga dapat melihat rangkaian pegunungan Bukit Barisan.

Selanjutnya Kubah Al-Tsunami (Kubah Masjid Lamteungoh di Desa Lamteungoh, Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Saat tsunami menjadi hancur dan yang tersisa hanya kubah yang beratnya puluhan ton. Gelombang Tsunami membuat kubah itu terombang ambing seakan mencari dudukan yang tepat dan terseret sejauh 2,5 kilometer hingga sampai ke hamparan sawah di Desa Gurah, Peukan Bada, Aceh Besar.

Kubah yang kini dinamai Kubah Al-tsunami tersebut juga dianggap kapal penyelamat. Pasalnya, banyak orang yang menyelamatkan diri dengan naik ke atas kubah. Kubah ini kini menjadi salah satu destinasi wisata di Aceh.

Setelah itu, salah satu objek wisata yang paling terkenal di Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, adalah kapal di atas rumah. Objek wisata itu merupakan saksi bisu sejarah bencana alam gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang meluluh lantakkan tanah serambi mekkah.

Kapal ini menjadi bukti penting betapa dahsyatnya musibah tsunami tersebut, berkat kapal ini 59 orang terselamatkan pada kejadian itu. Dibawah kapal juga terdapat bangunan sisa tsunami yang menopang kapal itu.

Peristiwa besar itu pula yang membawa kapal seberat 20 ton ini tersangkut di atas rumah penduduk di kawasan kampung Lampulo, kapal dengan panjang 25 meter ini terbuat dari kayu. Dan kini telah dipugar dan di percantik oleh pemerintah.

Sebenarnya, masih banyak situs edukasi yang tersisa di Aceh, khususnya Banda Aceh, Seperti Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Monumen Thanks The World di Blang Padang dan bangunan sisa tsunami yang banyak tersebar di pesisir Banda Aceh. (adv)

Penulis:redaksi
Rubrik:Pariwisata

Komentar

Loading...