Septi, Gajah Terisolasi di Kebun Warga di Subulussalam Akhirnya Tempati Rumah Baru

Ilustrasi

SUBULUSSALAM, ACEHPORTALCOM - Gajah liar yang sudah lebih dari 5 tahun terisolasi di perkebunan warga di Gampong Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Subulussalam akhirnya ditranslokasi setelah 6 hari pelaksanaan kegiatan. Gajah betina berumur 20 tahun yang diberi nama Septi ini ditangkap menggunakan senjata bius pada Sabtu (8/12/2018) kemarin.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, operasi ini sendiri melibatkan 35 personel gabungan dari BKSDA Aceh, Dinas LHK Aceh, KPH Wilayah 6, WCS, FKL, OIC dan didukung Direktorat KKH Direktorat Jenderal KSDAE, PKSL Unsyiah, Usaid Lestari serta BCCPGLE KFW.

"Selain itu, operasi juga melibatkan 5 ekor gajah jinak dari CRU DAS Peusangan, PKG Sare dan CRU Trumon," ujar Sapto Senin (10/12/2018) sore saat dikonfirmasi.

Ia menjelaskan, upaya translokasi gajah liar yang sudah direncanakan sejak 17 bulan lalu ini sempat beberapa kali tertunda karena tidak adanya akses ke lokasi pelepasliaran di hutan Bengkung yang merupakan perbatasan Subulussalam dan Aceh Selatan serta Aceh Tenggara.

"Bahkan sempat muncul ide dari sebuah LSM luar negeri untuk memindahkan menggunakan hekikopter, namun urung dilaksanakan karena persoalan teknis. Namun harapan muncul dengan adanya pembukaan perkebunan PT ISP yang membuat akses ke Bengkung menjadi terbuka," katanya.

Setelah serangkaian rapat teknis, tim gabungan akhirnya memulai kegiatan translokasi pada Kamis (6/12/2018) kemarin. Perlu waktu 3 hari hingga kemudian tim berhasil menembak bius Septi. Gajah yang setengah terbiasa itu kemudian ditarik menggunakan gajah jinak menuju truk pengangkut subuh kemarin dan selanjutnya diangkut ke batas perkebunan PT ISP dengan hutan produksi.

"Minggu tengah malam, tim kemudian menarik gajah Septi menuju Hutan Lindung Bengkung yang berjarak sekitar 20 kilometer. Upaya yang dilakukan tengah malam hingga pagi untuk menghindari sengatan matahari yang bisa membahayakan keselamatan gajah," ungkap Sapto.

Akhirnya, sekira pukul 10.00 WIB tadi gajah sampai pada titik pelepasan yang direncanakan. Tim lalu memasang GPS Collar untuk memonitor pergerakan Septi. GPS Collar yang dipasang akan mengirimkan data posisi gajah ke receiver BKSDA dan PKSL Unsyiah melalui satelit.

"Septi diharapkan dapat bergabung dengan kelompok gajah yang ada di Bengkung yang diperkirakan ada sekitar 10 ekor. Jika Septi bisa bergabung ke kelompok gajah Bengkung, akan sangat bagus untuk meningkatkan keragaman genetis kelompok gajah ini," jelasnya.

Pasca pelepasliaran, BKSDA Aceh bersama mitra akan menempatkan tim mitigasi yang bertugas merespon jika seandainya Septi bergerak kembali ke perkebunan. Selain itu, didukung Forum Konservasi Leuser, KPH 6 dan PT ISP, akan dibangun barrier berupa parit sepanjang lebih dari 5 km untuk mencegah Gajah Septi kembali ke perkebunan dan pemukiman warga.

"Semoga Septi betah di Bengkung dan dapat bergabung dengan keluarga barunya," tambah Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo.

Penulis:Hafiz
Rubrik:News

Komentar

Loading...