BKSDA Aceh: 6 GPS Collar Tersebar di Beberapa Habitat Penting Gajah di Aceh

Pemasangan GPS collar pada gajah di Aceh oleh BKSDA

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, sejauh ini pihaknya telah memasang 6 GPS collar yang tersebar di beberapa habitat penting gajah di Aceh.

Saat ini, 4 diantaranya masih aktif dan memberikan informasi yang sangat penting terkait pola pergerakan gajah dan mengkonfirmasi faktor barrier alami yang mempengaruhinya.

"Sehingga saat ini kita mengetahui beberapa kawasan yang sangat penting dan wajib dilakukan pengelolaan secara aktif untuk dapat menanggulangi konflik gajah secara permanen dan sekaligus sebagai langkah penting bagi upaya konservasi gajah," ujarnya Jumat (30/11/2018).

Sapto juga menyampaikan, saat ini BKSDA memiliki beberapa GPS Collar termasuk collar yang dipasang di Panca-Gunung Biram ini bersumber dari donasi Internasional Elephant Foundation (IEF) & Asian elephant support (AES) yang disalurkan melalui PKSL-FKH Unsyiah.

"FKH Unsyiah telah ber MoU dengan pihaknya di BKSDA Aceh selama ini untuk melakukan tanggap terhadap kebutuhan penanganan medis pada satwa liar di lapangan, termasuk satwa liar dilindungi lainya," katanya.

Dirinya berharap, upaya ini akan menjadi bagian dari solusi penting bagi masa depan konservasi gajah di Aceh. BKSDA sendiri juga telah melakukan pengadaan unit GPS collar untuk kebutuhan lainya.

"Karena program pemasangan GPS collar ini diadopsi oleh Ditjen KSDAE sebagai salah satu Role model yang dipilih untuk Aceh," jelas Sapto.

Sementara, Wahdi Azmi selaku Ketua PKSL-FKH Unsyiah yang memimpin tim medis PKSL dalam operasi penanganan gajah betina liar yang terluka kemarin menjelaskan, pihaknya memposisikan diri mendukung tugas BKSDA Aceh sebagai otoritas pengelolaan konservasi yang telah diberikan mandat untuk itu.

PKSL FKH Unsyiah dengan wildlife ambulance programnya mendapat benefit berupa berbagai sarana dan akses bagi pelatihan pendidikan bagi calon-calon dokter hewan muda dan membangun keahlian khusus satwa liar sebagai comparative advantage didalam tubuh FKH satu-satunya di Sumatera ini.

"Saat ini beberapa staf pengajar FKH lainya membina langsung program wildlife ambulance ini diantaranya drh. Christopher Stremme, drh. Arman Sayuti, drh. Ryan Ferdian," katanya.

Wahdi juga menyebutkan, wilayah operasi di kemukiman Gunung Biram ini merupakan kawasan yang bernilai historis bagi gajah di Aceh.

"Dulu ketika Gajah Putih yang asal-muasalnya dari tanah Gayo itu menghilang cukup lama setelah masa kepemimpinan singkat Sultan Mughal (2 bulan) dan terjadi huru-hara yang mengakibatkan terbunuhnya raja pada tahun 1579 Masehi itu juga dan banyak gajah tidak terurus dan lepas termasuk Gajah Putih dan melarikan diri ke hutan," ungkapnya.

Maka, pemuda Iskandar Muda, cucu dari Sultan Mughal lah yang kemudian menemukan kembali Gajah putih ini kembali di kemukiman Gunung Biram untuk kemudian membawanya kembali ke Darud Donya (Banda Aceh saat ini) dan mempersembahkanya kepada Raja berkuasa saat itu.

"Iskandar Muda akhirnya berkuasa di Aceh pada tahun 1607 M hingga 1636 M dan dikenang sebagai masa keemasan kerajaan Aceh Darussalam," sambung Wahdi.

Oleh karena itu, tidak mustahil kalau individu yang kita tangani ini telah diwarisi darah dan memiliki kekerabatan erat secara genetik dengan Gajah Putih yang dijuluki Biram Satani (Hantu Gunung Biram) pada masa itu. Oleh karena itu, populasi gajah Gunung Biram ini wajib dilestarikan dan bisa jadi di suatu saat gajah putih keturunan langsung dari Biram Satani akan terlahir kembali.

"Saya semula heran melihat sikap masyarakat daerah ini yang bukannya marah dengan kehadiran gajah ini, karena ditumbangkan beberapa pokok pepaya dan pisangnya, malah ada beberapa masyarakat yang ingin mengobati langsung gajah itu dan telah menyiapkan obat semprot penangkal belatung di sepeda motornya kalau-kalau gajah memberikan akses," kata Wahdi yang heran melihat masih ada masyarakat Aceh asli yang berhati mulia dan sangat mencintai gajah juga sangat berani hingga ingin mengobati langsung, meskipun mereka tau ini adalah gajah liar dan berbahaya.

Penulis:Hafiz
Rubrik:News

Komentar

Loading...