Pacuan Kuda Tradisional GAMI Festival 2018 Dimulai

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Salah satu kegiatan Gayo Alas Mountain International (GAMI) Festival 2018 yakni Pacuan kuda tradisional dibuka hari ini, Senin (17/9/2018) siang. Pembukaan berlangsung di Lapangan Pacu Kuda Kecamatan Pegasing, Takengon.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Kadisparpora) Aceh Tengah, Khairudin Yoes mengatakan, pacuan kuda tradisional ini adalah salah satu tradisi yang berkembang di masyarakat Gayo.

Ia mengatakan, pacuan kuda tradisional merupakan salah satu even sekaligus atraksi budaya di Gayo. "Pacuan kuda ini akan dilaksanakan hingga satu minggu kedepan, saat final," ujarnya saat memberikan laporan kegiatan di tribun lapangan pacuan kuda.

Dijelaskannya, pacuan kuda ini terdiri dari beberapa kelas bahkan ada golongan kuda berpostur kecil hingga besar yang dipacu. Jumlah kuda yang diperlombakan sendiri hingga satu minggu kedepan yakni sekitar 350 ekor yang berasal dari kabupaten dataran tinggi Gayo-Alas.

"Pacuan kuda ini dilaksanakan satu hari sejak pagi hingga setelah Ashar nanti, kecuali waktunya molor karena keadaan yang mendesak," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Tengah, Firdaus mengatakan, pacuan kuda ini merupakan salah satu rangkaian dari even GAMI Festival 2018 yang dibuka di Lapangan Musara Alun kemarin. Menurutnya, ini merupakan suatu program yang strategis untuk bagian tengah Aceh.

"Pacuan kuda ini sebagai destinasi wisata di empat kabupaten dataran tinggi Gayo-Alas agar banyak wisatawan yang berkunjung dan dapat menumbuhkan serta meningkatkan perekonomian masyarakat," katanya.

Pihaknya berusaha untuk membangun seluruh pariwisata di bagian tengah Aceh ini sehingga nantinya pertumbuhan ekonomi dapat terjadi di dataran tinggi Gayo-Alas. Pihaknya juga bersyukur serta berterima kasih atas perhatian pemerintah Aceh melalui even GAMI Festival 2018 ini.

"Sukseskan setiap even. Even ini disisi lain menjadi bahan evaluasi kita sehingga dapat berlanjut kedepan. Selain itu kita imbau para joki untuk mengenakan kerawang Gayo yang dapat menarik perhatian wisatawan saat berkuda, yang paling penting dalam setiap kegiatan tidak melanggar aturan syariat Islam dan hukum yang berlaku," jelasnya.

Firdaus berharap, pacuan kuda yang merupakan warisan peninggalan saat Belanda menjajah ini dapat terpelihara hingga kedepan. Selain itu, ia berharap kabupaten dataran tinggi Gayo-Alas juga dapat menjadi daerah sebagai produsen kuda yang nantinya dapat dijual dengan harga tinggi, seperti kuda yang berasal dari Australia dan Sumatera Barat.

"Jangan melanggar ketentuan, jangan ada judi dan lainnya. Bagi pedagang juga sudah ditetapkan aturan untuk berjualan. Para joki hendaknya bersaing secara sehat dan mengenakan kerawang Gayo agar ada nilai jual bagi wisatawan," tambahnya.

Pantauan di lokasi, ratusan masyarakat sudah memadati arena pacuan kuda sejak pagi. Pembukaan pacuan kuda ini diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran dan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta lagu daerah setempat.

Di bagian sebelah kanan tribun, tampak sejumlah posko keamanan dan posko tim terpadu untuk penertiban dan penegakan syariat Islam. Di salah satu posko juga dipasangkan spanduk imbauan untuk tidak berjudi dan melanggar aturan syariat Islam.

Selain itu, tampak ratusan personel TNI/Polri beserta Satpol PP dan WH dan unsur terkait lainnya mengamankan jalannya kegiatan ini. Kegiatan ini dihadiri sejumlah tamu undangan seperti para pejabat dari empat kabupaten dataran tinggi Gayo-Alas, camat, serta lainnya.

Editor:hafiz
Rubrik:Pariwisata

Komentar

Loading...