MaTA: Konggres KNPI Nasional Kenapa Harus Ditanggung oleh APBA?

images

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Dalam menyikapi Kongres XV KNPI Nasional Pemuda Aceh yang mendapat kucuran dana senilai Rp 9,8 miliar dari APBA, Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) mempertanyakan mengapa kegiatan tersebut harus ditanggung oleh APBA.

Hal ini disampaikan Koordinator MaTA, Alfian, saat dimintai tanggapannya, Jumat (7/9/2018) sore. "Anggaran Rp 9,8 milyar itu bukan sedikit dananya bagi Aceh saat ini, pemerintah juga perlu menjelaskan dasar aturan pengalokasian dana tersebut, kenapa harus jadi beban APBA dan sumber dana dari Otsus?," ujarnya.

Menurut Alfian, pemerintah juga perlu menjelaskan terkait hal ini, jangan asal mengalokasikan dananya saja, sehingga anggaran Aceh tidak dihabiskan pada even tertentu yang sementara kondisi rakyat Aceh tidak mengalami adanya perubahan.

"Banyak sekali sudah even di Aceh yang bertaraf nasional dan selalu retorikanya untuk kemajuan ekonomi. Publik sudah sangat lelah dengan retorika yang tidak mendasar," katanya terkait kegiatan yang akan dilaksanakan 28 Oktober mendatang ini.

Ia menambahkan, seharusnya anggaran untuk kegiatan KNPI tersebut jangan dibebankan pada APBA, mengapa tidak dari APBN. "Kalau dari APBN itu baru hebat dan itu patut dihormat, tapi kalau menguras APBA, itu siapa pun bisa lakukan tidak mesti KNPI saja," tambahnya.

Sebelumnya, Ketua KNPI Aceh, Wahyu Saputra dalam pernyataan diakun facebook miliknya menjelaskan anggaran tersebut tidak dikelola oleh KNPI tetapi melekat di Dispora Aceh. Anggaran tersebut dalam bentuk program dan KNPI hanya menerima barang dan jasanya saja. Semua pengadaan barang dan jasa dilakukan oleh dispora Aceh.

"Kongres KNPI akan dihadiri oleh 15 ribu pemuda dari seluruh Indonesia dan berlangsung selama 5 hari. Kalkulasi ekonominya, jika seorang pemuda yg hadir membelanjakan uang sebesar 2 juta saja (bisa lebih), maka akan berputar uang di kota Banda Aceh sebanyak 30 Milyar, usaha kuliner akan bergairah, perhotelan akan terisi penuh, transportasi akan maju, barang barang souvenir dan kerajinan Aceh akan ramai dibeli oleh pemuda Indonesia, jadi sangat kecil dibandingkan anggaran yg di keluarkan Pemerintah Aceh untuk menjamu pemuda Indonesia," tulisnya.

Menurutnya, selain efek ekonomi, citra keamanan Aceh juga akan membaik, membantu Aceh sebagai daerah yang layak menjadi tujuan wisata dan tentu saja sepulang mereka dari Aceh, mereka akan merekomendasikan Aceh kepada Pemuda/i lainnya. Pemuda yang hadir ke Aceh adalah pemuda pilihan dari seluruh Indonesia, mereka berasal dari berbagai profesi, ada wakil gubernur, bupati/walikota, anggota dprd provinsi/kab, pengusaha, akedemisi, birokrat, dll.

"Perjuangan untuk menjadikan Aceh sebagai tuan rumah pada Kongres XIV di Papua juga sangat berat, harus menyisihkan daerah lain yang juga menginginkan daerahnya menjadi tuan rumah. Jadi kapan lagi kita mendapatkan kesempatan seperti ini?.

Mari kita sukseskan Kongres Pemuda Indonesia ke XV di Kota Banda Aceh pada 28 Oktober 2018." demikian tulisnya lagi.

Penulis:hafiz
Rubrik:News

Komentar

Loading...