Panorama Danau Laut Tawar yang Eksotik

Daratan Gayo (Doc. Disbudpar Aceh)

Danau Laut Tawar, begitu namanya di kenal sebagai salah satu destinasi wisata di daratan tinggi Gayo, Aceh, menyimpan segudang keindahan dan makna. Pagi itu, Rabu 15 Agustus 2018, tiupan angin yang berhembus dari balik lereng pegunungan Gayo, seolah menembus kulit. Kesejukan yang menjadi khas daratan tinggi Gayo ini mulai menerpa. Nakun, kicauan suara burung-burung yang saling bersahutan, seolah kembali memicu semangat dan mengikis rasa dingin.

Hal tersebut sangat terasa ketika memasuki lokasi wisata Danau Laut Tawar yang terletak di kota Takengon, Aceh Tengah. Danau ini, bukan hanya sekedar wadah yang menampung air tawar bak lautan  luas, tetapi juga menyimpan beragam keindahan yang cukup mempesona. Sehingga, danau ini bukan saja bermanfaat sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar, lebih dari itu Danau Laut Tawar juga menjadi salah satu destinasi wisata adventure yang eksotik di provinsi Aceh.

Sebelum berkunjung ke kawasan wisata ini, pengunjung pasti sudah disambut oleh pemandangan indah di lereng-lereng pengunungan. Letaknya yang persis berada di tengah-tengah kota Takengon, sudah memperlihatkan panoramanya dari kejauhan. Lebih kurang 2 kilometer sebelum memasuki kota Takengon, Danau Laut Tawar sudah terlihat jelas membentang ditengah-tengah kota. Kondisi ini pun bertambah menarik, saat disambut dengan tiupan angin nan sejuk. Betapa tidak, kota Takengon merupakan salah satu kawasan di dataran tinggi Gayo yang dikenal dengan kesejukanya.

Secara geografis, Danau Laut Tawar terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah. Disisi barat danau ini terdapat kota Takengon, yang juga merupakan ibu kota Kabupaten Aceh Tengah. Masyarakat yang mendiami daerah tersebut, menyebut danau ini dengan sebutan Danau Lut Tawar. Danau ini mempunyai Luas sekitar 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Danau Laut Tawar ini disebut dengan nama Laut karena wilayah perairan danau ini sangat luas. Begitu pun dengan nama Tawar, karena air yang berada di danau ini merupakan air tawar.

Bagi masyarakat setempat, keberadaan Danau ini sangatlah vital sekali karena selain sebagai tempat wisata yang kerap dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara, juga digunakan sebagai sumber air bagi Kabupaten Aceh Tengah dan beberapa kabupaten lain di sekitarnya. Keberadaan Danau Laut Tawar menjadi kebanggaan masyarakat Aceh secara umum.

Pemandangan danau yang biru itu, bagaikan samudra yang berada ditengah-tengah pegunungan. Lanskap alam yang serba hijau disekitar danau, lalu diapit bukit-bukit dataran tinggi gayo, telah membuat keindahan Danau Laut Tawar menjadi ciri khas salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi. Selain itu, keindahannya pula bertambah lebih bermakna, ketika melihat warga sekitar melakukan aktifitas dalam menopang hidup mereka di sekitar danau.  Aktifitas mengelola lahan pertanian dan sektor perikanan di sekitar danau, dilakukan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraan.

Panorama di sekitar Danau Laut Tawar yang diapit oleh dua buah bukit ini menyajikan keindahan tersendiri bagi yang berkunjung ke tempat ini. Penyatuan perairan dan dataran memberi banyak manfaat bagi penghidupan masyarakat setempat, terutama di sekitar dataran tinggi Gayo. Di lokasi ini banyak ditemukan aktivitas masyarakat seperti bercocok tanam dan memancing ikan.

Wisatawan yang berkunjung ke Danau Laut Tawar, tentu diusik rasa penasaran akan danau tersebut. Tidak jarang para wisatawan nusantara maupun mancanegara menghabiskan waktu lama untuk menikmati panorama Danau Laut Tawar. Sehingga, para wisatawan kerap menjadikan kawasan ini sebagai lokasi wisata adventure atau petualangan. Sebab, bukan saja satu pemandangan indah yang dapat dinikmati, tetapi beragam hal menarik dapat memanjakan setiap pengunjung.

Ketika berkunjung ke Takengon dan menikmati Danau Laut Tawar dengan menjelajahi jalan berkelok-kelok di samping indahnya pegunungan, seakan mata telah terhibur oleh pemandangan visual yang menakjubkan. Danau laut tawar yang menempel di kota Takengon, sebuah kota kecil dengan penduduk tidak lebih dari 230.000 di Aceh Tengahitu, menjadi pemikat hati para wisatawan.

Dalam penjelajahan jalan di pinggiran danau, seakan pengunjung tak ingin menyapu wajah karena pandangan panorama yang memikat. Tidambah lagi suhu yang sejuk yangrata-rata hampir permanen sekitar 20 derajat selsius, atau 68 derajat Fahrenheit. Hal itu membuat pengunjung nyaman, seolah berada di dalam ayunan yang disuguhkan pemandangan indah.

Air yang cukup untuk mengairi lahan pertanian dan ikan di Danau Laut Tawar yang tak habis-habisnya, menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat yang bermukin di sekitar danau. Lahan perkebunan menghiasi sisi danau. Begitu juga keramba ikan air tawar yang mengitari pinggiran danau, menjadi pertanda bahwa denyut ekonomi di sekitar danau tumbuh dan berkembang.

Nelayan-nelayan yang menggunakan perahu, silih berganti mengarungi danau untuk menangkap ikan. Seperti nelayan di lautan pada umumnya, di Danau Laut Tawar juga berjejer perahu-perahu milik warga sekitar yang selalu siap mendampingi nelayan mengaruhi danau untuk mengais rezeki. Belum banyak yang mengetahui, Danau Laut Tawar menyimpan ikan endemik yang tidak dimiliki danau-danau lain dimanapun.

Untuk mengenal lebih dekat dan ingin mengetahui lebih dekat terkait “misteri” wisata yang tersimpan di Danau Laut Tawar,  akan sangat baik bila dilakukan dengan petualangan atau dikenal dengan wisata adventure. Dengan hal itu, wisatawan dapat menikmati seluruh keindahan yang tersimpan di seputaran Danau Laut Tawar. Selain Ikan Depik, banyak hal yang dapat dinikmati diantaranya wisata sepeda gunung, pacuan kuda, wisata kopi, memancing di Danau Laut Tawar dan lainnya.

Laut Tawar dan Ikan Depik

Salah satu cirikhas Danau Laut Tawar adalah memiliki ikan endemic yang dinamakan Ikan Depik. Ikan tersebut hanya hidup di Danau Laut Tawar. Bila dilihat dalam beberapa literatur tentang ikan air tawar, kita hanya menemukan beberapa jenis ikan seperti mujair, ikan nila, lele, ikan mas dan lain sebagainya. Namun, untuk spesies ikan depik ini, hanya bisa ditemukan di Danau Lut Tawar Aceh Tengah. Ikan Depik termasuk ikan yang tergolong mahal di dataran tinggi Gayo, karena keistimewaan dan keunikan yang dimiliki ikan itu. Harga Ikan Depik berkisar Rp. 100 ribu sampai Rp. 120 ribu per bamboo (isi 2 liter) atau berkisar Rp. 60 ribu/Kg, tergantung musim ikan depik. Sementara ikan Depik kering, bisa mencapai Rp. 160 ribu per Bamboo.

Ciri-ciri ikan Depik ini berukuran kecil memanjang hampir menyerupai ikan teri. Biasanya pada waktu pertengahan tahun yaitu sekitar bulan Agustus hingga pada akhir tahun, para nelayan terlihat sibuk menangkap ikan depik di pinggir Danau Laut Tawar. Bila musim panen ikan depik tiba, terjadi perubahan iklim, yaitu angin yang berhembus terasa berbeda yaitu agak lebih dingin. Terkadang disertai hujan atau gerimis-gerimis kecil. Menurut perkiraan para nelayan ikan depik, hal itu menandakan musim panen ikan depik telah tiba.

Nelayan pun terlihat sibuk menyiapkan jaring untuk menjaring ikan depik tersebut. Setelah para nelayan menjaring ikan depik, biasanya di waktu subuh para agen atau penyalur ikan depik mendatangi tempat para nelayan ikan depik untuk melakukan transaksi jual beli. Setelah terjadi transaksi, ikan depik tersebut ke pasar ikan dan menjualnya kembali kepada para penjual ikan dipasar tradisional.

Cara pembelian ikan depik ini memiliki takaran atau timbangan tertentu, bukan dalam bentuk kilogram, akan tetapi dalam bentuk “katok” (bahasan setempat yang menandatakan takaran menyerupai ukuran liter) dan “bamboo”. Biasanya untuk takaran 1 “katok” kecil berukuran 250 gram dan katok besar bisa lebih dari itu. Sedangkan untuk ukuran 1 “bamboo” berukuran hampir 2 kilogram. Untuk penjualan ikan depik ini terbagi dalam Dua bentuk, yaitu ikan depik basah, yaitu ikan depik yang telah di panen, dan ikan depik kering yaitu ikan depik yang dijemur. Akan tetapi berbeda dengan ikan asin pada umumnya. Ikan depik ini hanya sekadar dijemur.

Ukuran ikan yang panjang maksimalnya hanya berkisar 8 hingga 9 cm ini, sebelumnya memiliki musim tersendiri. Dulu, ikan depik ini baru ada saat musim hujan. Sebelum musim hujan tiba, ikan depik bersembunyi di kaki gunung Bur Kelieten. Uniknya, ketika bulan purnama, tidak ada satu pun ikan depik yang muncul. Seiring bergesernya waktu serta kian kerasnya persaingan hidup, para nelayan di danau itu menggunakan beragam cara untuk menangkap ikan depik walau belum memasuki musim. Bagi masyarakat sekitar, ikan Depik merupakan anugerah yang dipercaya tidak akan habis sampai kapanpun.

Keberadaan ikan depik dan ikan air tawar di danau sepanjang 17 kilometer dan lebar maksimal empat kilometer ini, menjadi penopang hidup bagi masyarakat sekitar. Selain bertani dan berkebun kopi, sebagian masyarakat kawasan ini memilih menjadi nelayan di Danau Laut Tawar. Profesi ini dipilih, karena keberadaan ikan depik telah menjadi penting bagi penduduk sekitar. Harga jualnya sangat tinggi, sehingga ikan berukuran kecil itu paling diburu para nelayan setempat.

Bukan saja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daratan tinggi Gayo, tetapi masyarakat dari luar daerah pun kerap membeli ikan ini. Hal ini disebabkan karena faktor penasaran ingin merasakan gurihnya ikan depik dan faktor souvenir. Biasanya masyarakat luar yang berkunjung ke Takengon, kerap menjadikan ikan Depik kering menjadi salah satu ole-ole sepulang mereka dari sana.

Salah satu penarik dari Danau Laut Tawar adalah ikan depiknya. Banyak wisatawan ingin menyaksikan langsung aktivitas nelayan menangkap ikan depik dengan alat tangkap. Selain itu, wisatawan juga ingin melihat secara langsung bentuk dan ukuran ikan depik yang sudah dikenal identik dengan Danau Laut Tawar ini. Sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia, Danau Laut Tawar juga diharapkan dapat menjadi destinawi wisata andalan di Indonesia.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata Aceh, Amiruddin Tjoet Hasan mengatakan, Aceh cukup potensial dikembangkan di sector wisata. Namun, hal yang paling penting dilakukan saat ini adalah bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa wisata itu penting. Sektor wisata memiliki nilai ekonomi kontan bukan hutang. “Hari ini yang paling penting bagaimana menyadarkan masyarakat kita bahwa wsata ini penting. Sektor pariwisata tidak ada istilah merusak, yang ada adalah membangun. Hari ini sektor usaha pariwisata tidak dipersulit dari segi perizinannya baik peroranagan maupun lembaga, tetapi dipermudah,” ujarnya.

Dia mengajak para usaha jasa pariwisata untuk melihat kondisi jasa pariwisata di luar yang telah sukses menarik wisatawan. Selain itu, Aceh yang sekarang sedang gencar mengkampanyekan wisata halal, harus diwujudkan dengan kenyataan, dan bukan sekedar cerita atau omongan orang. Objek wisata di Aceh, termasuk danau laut tawar harus dipromosikan terus menerus baik dari segi daya tariknya maupun dari segi pelayanan wisata halal yang sedang gencar di terapkan di Aceh.

“Jadi, Inilah yang kita lakukan hari ini, dan tentunya mengajak seaudara-saudara kita yang sudah membuat biro perjalanan maupun pengelola objek wisata. Selama ini juga kita mempromosikan gencar bahwa Aceh aman dan nyaman. Kemudian mensosialisasikan wisata bagaimana pelaku wisata bisa memberikan jasa playanan yang baik. Kita sadari tanpa duukungan masyarakat secara menyelruh, wisata ini tidak berjalan. Seperti sekarang ini, kita sedang menggalakkan wisata halal di Aceh, kita berharap semua perlakuan yang dilakukan oleh pengusaha Aceh harus mencerminkan wisata halal, bukan hanya cerita dan tunjukka buktinya. Contoh di lokasi wisata harus ada musalla dan lainnya,” kata Amiruddin. (*)

Penulis:redaksi
Rubrik:Pariwisata

Komentar

Loading...