BKIPM Aceh: Aceh Punya Ikan, Daerah Lain Punya Nama

Kepala BKIPM Aceh, Diky Agung Setiawan

BANDA ACEH, ACEHPORTAL.COM - Provinsi Aceh memiliki hasil alam yang melimpah ruah di berbagai sektor, termasuk di sektor perikanan sendiri. Namun, sayangnya sebagian besar hasil perikanan ini dinikmati oleh masyarakat di Sumatera Utara.

Menurut data dari Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Aceh, sekitar 70 persen ikan yang diekspor dari Sumatera Utara adalah hasil perikanan dari Aceh.

"Sumut hanya tempat transit sebelum diekspor ke luar, baik wilayah Indonesia maupun luar negeri," ujar Kepala BKIPM Aceh, Diky Agung Setiawan Sabtu (28/4/2018) malam di salah satu warung kopi di Banda Aceh.

Diky menjelaskan, kondisi ini sangat berpengaruh terhadap devisa atau pendapatan untuk daerah. Nilai dari lalu lintas penjualan ekspor di Sumatera Utara mencapai Rp 1 triliun lebih. Namun, pihaknya tidak mengetahui pendapatan dari hasil penjualan ikan ke provinsi tetangga Aceh itu.

"Akibatnya, pendapatan Aceh dari sektor perikanan minim, Aceh punya ikan, tetapi bukan Aceh yang ambil manfaatnya. Kita hanya mendapat Rp 70 juta per tahun yang disetorkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan," katanya.

Ia juga mengatakan, pihaknya berusaha meningkatkan nilai ekspor ini dengan berbagai upaya untuk meningkatkan penghasilan Aceh serta tentu meningkatkan jumlah pengembalian dari kementerian kepada Aceh.

"Seharusnya Aceh harus mampu mengekspor langsung hasil perikanan nelayan, dengan begitu nilai tambah dari hasil ekspor itu tetap ada di Aceh," kata Diky.

Hampir semua jenis komoditas ikan tersebar di Aceh seperti tuna, lobster, kerapu, udang, kepiting dan lainnya. Jika Aceh bisa ekspor sendiri, tentu pendapatan karantina mencapai Rp 1 miliar lebih dan banyak yang bisa didapat Aceh.

"Namun untuk sampai kesana Aceh perlu proses, seperti sarpras khusus mikrobiologi untuk uji kualitas ikan yang diekspor. Tuna misalnya, butuh pengecekan histaminnya, jika kadar histaminnya berlebih maka menyebabkan gatal. Ini tidak disukai orang Eropa," jelasnya.

Pihaknya berupa mengubah sistem dan membangun komunikasi dengan pihak terkait agar Aceh mampu mengekspor langsung tanpa harus melalui Sumatera Utara, termasuk hasil perikanan Aceh terbebas dari penyakit.

"Untuk di Aceh sendiri saat ini kami dapat laporan adanya ikan kerapu yang kena virus sehingga tidak bisa diekspor. Ini sedang kita dalami apa penyebabnya untuk ditanggulangi," tambahnya.

Penulis:hafiz
Rubrik:Umum

Komentar

Loading...