Nikmati Liburan di Pulo Aceh dengan Keindahan Alamnya

Pulo Breuh dari atas Mercusuar Willem Toren. (acehportal)

Banda Aceh, acehportal.com - Keindahan panorama alam Aceh bisa dijumpai disetiap sudut daerah, seperti Pulo Aceh. Kepulauan sebuah kecamatan di Aceh Besar itu letaknya paling ujung barat Indonesia.

Jangan heran, dari 10 pulau yang ada di satu kecamatan itu, hanya dua diantaranya yang dihuni penduduk, yakni Pulo Nasi dan Pulo Breuh.

Keindahan yang ditawarkan pulau itu, seperti sepenggal tanah surga. Karena, sebelum tiba di sana, pemandangan gugusan Pulo Aceh sudah terlihat dari kejauhan, berupa bukit-bukit dengan pepohonan yang rindang.

Jika ingin menuju ke Pulo Aceh, dari Banda Aceh kita bisa menggunakan jasa kapal nelayan ukuran 22 gross ton (GT), yang dermaganya di Ulee Lheu, tepatnya depan kuburan massal tsunami, tujuan Pulo Nasi dan untuk ke Pulo Breuh dermaganya ada di Lampulo.

Namun khusus tujuan Pulo Nasi, kita juga bisa menggunakan kapal motor penyeberangan (KMP) Papuyuh, yang berlabuh tiga kali dalam sepekan, Rabu, Jumat dan Minggu dari Pelabuhan Ulee Lheu. Dengan kapal itu, perjalanannya yang ditempuh sekitar 1,5 jam tiba di dermaga Lamteng, Pulo Nasi, hanya 30 menit lebih cepat menggunakan kapal nelayan.

Saat perjalanan menuju ke Pulau yang memiliki penduduk sekitar lima ribu jiwa itu, di pertengahan laut kita juga akan disajikan dengan sejumlah pulau nan indah di ujung Sumatera tersebut, diantaranya Pulo Batee, Pulo Bunta, serta tampak dari kejauhan pulau Sabang.

Begitu juga terlihat pemandangan sejumlah boat-boat nelayan disibukkan mencari ikan,  ada yang melempar pancingan, serta menggunakan jaring. Pemandang-pemandangan itu, tak membuat mata lelah, hingga pertama kali kita temukan Pulo Nasi, kalau perjalanan ditempuh dari Banda Aceh.

Sebelum tiba di pelabuhan Pulo Nasi, kita sudah disajikan dengan keindahan panorama alam teluk Lamteng yang air lautnya biru, sehingga tampak ikan-ikan kecil menari-nari, yang berlatarkan pasir putih.

Garis pantainya juga sungguh indah, karena bertabur pasir putih, hingga saat memandang ke dalam permukaan laut sekali-sekali tampak terlihat terumbu karang. Bagi mereka yang suka diving serta snorkeling, sangat cocok untuk menikmati keindahan alam bawah laut.

Pulo Nasi yang memiliki lima gampong (desa) di dalamnya, mempunyai sejumlah lokasi wisata lainnya, selain wisata bahari, diantaranya Pantai Demit, Pantai Nipah, Pantai Deudap, Pantai Alue Riyueng, Pantai Mata Ie, serta banguna mercusuar peninggalan Belanda, yang masih aktif memantau lalulalang kapal di ujung pulau itu.

Seluruhnya tersebar di Pulo Nasi, yang hutan-hutannya masih terlihat lebat nan rindang, serta lekukan bukit-bukit menambah sebuah kenikmatan saat kita melaluinya.

Pulo Nasi, tak jauh berbeda panorama alamnya yang disajikan. Setibanya di Pulau yang memiliki 12 gampong itu, kita lebih dulu berlabuh di dermaga Lampuyang, yang merupakan ibukota Kecamatan Pulo Aceh.

Di pulau yang berpenghasilan cengkeh dan pala itu, kita sudah mulai menikmati panorama alam nan indah sejak dari gampong Ulee Paya. Garis pantai dengan pasir putih dan air lautnya yang biru terlukis indah.

Pemandangan itu terlihat saat melintasi perjalanan di atas perbukitan. Jika Anda membawa perangkap kamera, jangan segan-segan untuk mengabadikannya. Karena rugi kalau moment seperti itu dilewatkan.

Apalagi setiap sudut perjalanan, sepanjang pulau yang penduduknya rata-rata petani dan nelayan tersebut, memiliki sejumlah objek keindahan yang bisa memanjakan mata. Sungguh sayang, jika itu dilewatkan.

Keindahan pantai itu, terlihat hingga ujung perkampungan Pulo Breuh, yakni Meulingge. Seperti pantai Baluh,dengan keindahan panorama bibir pantainya.

Saat tiba di pedesaan paling ujung Pulo Breuh yang menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Lampuyang (menggunakan sepeda motor),  ada sebuah dermaga boat nelayan di gampong Meulingge itu.

Air lautnya yang biru dengan berlatarkan pasir putih, bisa kita nikmati dari atas dermaga. Sekali-sekali kita mendapatkan pemandangan sekawanan ikan-ikan kecil yang menari-nari jika predator lainnya mengganggu mereka.

Namun, selain wisata pantai yang kita temukan di sepanjang jalan lingkar Pulo Aceh, juga di balik perbukitan Meulingge terdapat sebuah bangunan peninggalan jaman Belanda, mercusuar William Toren III, yang merupakan menara tempat pemantauan lalu lintas laut di ujung pulau itu.

Masih ada lagi wisata pantai nan indah di Pulo Breuh itu, di kawasan Lampeng. Kesulitan kenderaan menempuh ke perkampungan itu yang membuat kendala, kecuali menggunakan boat.

Maka, jangan ragu saat waktu liburan Anda tiba. Bisa mengajak teman-teman maupun keluarga untuk menikmati keindahan alam Pulo Aceh. (adv)

Komentar

Loading...