Dataran Tinggi Gayo, Destinasi Unik Wisata Adventure

Laut Tawar.(doc.disbudparaceh)

Acehportal.com - Pagi menjelang siang, tiupan angin dari sisi pegunungan menembus kulit dan mulai terasa sedikit sejuk. Kicauan suara burung-burung pun menyahuti suara alam yang menyimpan sejuta keindahan. Hal itu sangat terasa ketika memasuki lokasi wisata Danau Laut Tawar yang terletak di Kota Takengon, Aceh Tengah. Bukan hanya sekedar wadah yang menampung air tawar bak lautan  luas, tetapi Danau Laut Tawar yang tersohor itu, ternyata menyimpan beragam keindahan yang cukup mempesona. Bukan saja bermanfaat sebagai sumber air bagi masyarakat sekitar, pendapatan masyarakat sebagai nelayan, tetapi Danau Laut Tawar juga menjadi salah satu pusat wisata adventure di Provinsi Aceh.

Sebelum mengunjungi kawasan wisata itu, pengunjung sudah disambut oleh pemandangan indah di lereng-lereng pengunungan. Letak Danau Laut Tawar yang persis berada di tengah-tengah Kota Takengon, sudah memperlihatkan panoramanya dari kejauhan. Lebih kurang 2 kilometer sebelum memasuki Kota Takengon, Danau Laut Tawar sudah terlihat jelas membentang di tengah-tengah kota. Kondisi ini pun bertambah menarik, saat disambut dengan tiupan angin nan sejuk. Betapa tidak, Kota Takengon merupakan salah satu kawasan di dataran tinggi Gayo yang dikenal dengan kesejukan alamnya.

Danau Laut Tawar adalah sebuah danau alami dan kawasan wisata yang terletak di Dataran Tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah. Disisi barat danau ini terdapat Kota Takengon, yang juga merupakan Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah. Masyarakat yang mendiami daerah tersebut, menyebut danau ini dengan sebutan “Danau Lut Tawar”. Danau ini mempunyai Luas sekitar 5.472 hektar dengan panjang 17 km dan lebar 3,219 km. Danau Laut Tawar ini disebut dengan nama Laut karena wilayah perairan danau ini sangat luas. Begitu pun dengan nama Tawar, karena air yang berada di danau ini merupakan air tawar.

Keberadaan Danau Laut Tawar sangatlah vital sekali karena selain sebagai tempat wisata yang kerap dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara, juga digunakan sebagai sumber air bagi Kabupaten Aceh Tengah dan beberapa kabupaten lain di sekitarnya. Keberadaan Danau Laut Tawar menjadi kebanggaan masyarakat Aceh.

Panorama di sekitar Danau Laut Tawar yang diapit oleh dua buah bukit ini menyajikan keindahan tersendiri bagi yang berkunjung ke tempat ini. Penyatuan perairan dan dataran memberi banyak manfaat bagi penghidupan masyarakat setempat, terutama di sekitar dataran tinggi Gayo. Di lokasi ini banyak ditemukan aktivitas masyarakat seperti bercocok tanam dan memancing ikan.

Bila berkunjung ke Danau Laut Tawar, tentu rasa penasaran akan danau tersebut terus menyelimut i siapa saja yang menghampiri lokasi ini. Tidak jarang para wisatawan nusantara maupun mancanegara menghabiskan waktu lama untuk menikmati panorama Danau Laut Tawar. Sehingga, para wisatawan kerap menjadikan kawasan ini sebagai lokasi wisata adventure atau petualangan. Sebab, bukan saja satu pemandangan indah yang dapat dinikmati, tetapi beragam hal menarik dapat memanjakan setiap pengunjung, seperti hamparan perkebunan kopi rakyat dan pohon pinus.

Ketika berkunjung ke Takengon dan menikmati Danau Laut Tawar dengan menjelajahi jalan berkelok-kelok di samping indahnya pegunungan, seakan mata telah terhibur oleh pemandangan visual yang menakjubkan. Danau laut tawar yang menempel di Kota Takengon, sebuah kota kecil dengan penduduk tidak lebih dari 230.000 di Aceh Tengah itu, menjadi pemikat hati para wisatawan.

Dalam penjelajahan jalan di pinggiran danau, seakan pengunjung tak ingin menyapu wajah karena pandangan panorama yang memikat, ditambah lagi suhu udara yang sejuk yang rata-rata hampir permanen sekitar 20 derajat selsius, atau 68 derajat Fahrenheit. Hal itu membuat pengunjung nyaman, seolah berada di dalam ayunan yang disuguhkan pemandangan indah.

Panorama hamparan danau yang biru itu, bagaikan samudra yang berada ditengah-tengah pegunungan. Pemandangan alam yang serba hijau di sekitar danau, lalu diapit bukit-bukit dataran tinggi Gayo, telah membuat keindahan Danau Laut Tawar menjadi sempurna. Keindahan bertambah lebih bermakna, ketika melihat warga sekitar melakukan aktifitas dalam menopang hidup mereka di sekitar danau.  Aktifitas mengelola lahan pertanian dan sektor perikanan di sekitar danau, dilakukan masyarakat setempat untuk meningkatkan kesejahteraan.

Air yang cukup untuk mengairi lahan pertanian dan ikan di Danau Laut Tawar yang tak habis-habisnya, menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat yang bermukin di sekitar danau. Lahan perkebunan menghiasi sisi danau. Begitu juga keramba ikan air tawar yang mengitari pinggiran danau, menjadi pertanda bahwa denyut ekonomi di sekitar danau tumbuh dan berkembang.

Nelayan-nelayan yang menggunakan perahu, silih berganti mengarungi danau untuk menangkap ikan. Seperti nelayan di lautan pada umumnya, di Danau Laut Tawar juga berjejer perahu-perahu milik warga sekitar yang selalu siap mendampingi nelayan mengaruhi danau untuk mengais rezeki. Belum banyak yang mengetahui, Danau Laut Tawar menyimpan ikan endemik yang tidak dimiliki danau-danau lain dimanapun.

Untuk menguak “misteri” wisata yang tersimpan di Danau Laut Tawar dan sekitarnya itu, akan sangat baik bila dilakukan dengan petualangan atau dikenal dengan wisata adventure. Dengan hal itu, wisatawan dapat menikmati seluruh keindahan yang tersimpan di seputaran Danau Laut Tawar. Selain Ikan Depik, banyak hal yang dapat dinikmati diantaranya wisata sepeda gunung, pacuan kuda, wisata kopi, memancing di Danau Laut Tawar, pemandian air panas dan lainnya.

Ikan Depik

Ikan Depik, begitu orang setempat menyebutnya, merupakan ikan endemik yang hidup di Danau Laut Tawar. Bila dilihat dalam literatur tentang ikan air tawar, bahwa beberapa jenis ikan air tawar itu dapat dijumpai di danau-danau lain di negeri ini, seperti mujair, ikan nila, lele, ikan mas dan lain sebagainya. Namun, untuk spesies ikan depik ini, hanya bisa ditemukan di Danau Lut Tawar. Ikan Depik termasuk ikan yang tergolong mahal di dataran tinggi Gayo, karena keistimewaan dan keunikan yang dimiliki ikan itu. Harga Ikan Depik berkisar Rp. 100 ribu sampai Rp. 120 ribu per bamboo (isi 2 liter) atau berkisar Rp. 60 ribu/Kg, tergantung musim ikan depik. Sementara ikan Depik kering, bisa mencapai Rp. 160 ribu per Bamboo.

Ciri-ciri ikan Depik ini berukuran kecil memanjang hampir menyerupai ikan teri. Biasanya pada waktu pertengahan tahun yaitu sekitar bulan Agustus hingga pada akhir tahun, para nelayan terlihat sibuk menangkap ikan depik di pinggir Danau Laut Tawar. Bila musim panen ikan depik tiba, terjadi perubahan iklim, yaitu angin yang berhembus terasa berbeda yaitu agak lebih dingin. Terkadang disertai hujan atau gerimis-gerimis kecil. Menurut perkiraan para nelayan ikan depik, hal itu menandakan musim panen ikan depik telah tiba.

Nelayan pun terlihat sibuk menyiapkan jaring untuk menjaring ikan depik tersebut. Setelah para nelayan menjaring ikan depik, biasanya di waktu subuh para agen atau penyalur ikan depik mendatangi tempat para nelayan ikan depik untuk melakukan transaksi jual beli. Setelah terjadi transaksi, ikan depik tersebut ke pasar ikan dan menjualnya kembali kepada para penjual ikan di pasar tradisional.

Cara pembelian ikan depik ini memiliki takaran atau timbangan tertentu, bukan dalam bentuk kilogram, akan tetapi dalam bentuk “katok” (bahasan setempat yang menandatakan takaran menyerupai ukuran liter) dan “bamboo”. Biasanya untuk takaran 1 “katok” kecil berukuran 250 gram dan katok besar bisa lebih dari itu. Sedangkan untuk ukuran 1 “bamboo” berukuran hampir 2  kilogram. Untuk penjualsan ikan depik ini terbagi dalam Dua bentuk, yaitu ikan depik basah, yaitu ikan depik yang telah di panen, dan ikan depik kering yaitu ikan depik yang dijemur. Akan tetapi berbeda dengan ikan asin pada umumnya. Ikan depik ini hanya sekadar dijemur.

Ukuran ikan yang panjang maksimalnya hanya berkisar 8 hingga 9 cm ini, sebelumnya memiliki musim tersendiri. Dulu, ikan depik ini baru ada saat musim hujan. Sebelum musim hujan tiba, ikan depik bersembunyi di kaki gunung Bur Kelieten. Uniknya, ketika bulan purnama, tidak ada satu pun ikan depik yang muncul. Seiring bergesernya waktu serta kian kerasnya persaingan hidup, para nelayan di danau itu menggunakan beragam cara untuk menangkap ikan depik walau belum memasuki musim. Bagi masyarakat sekitar, ikan Depik merupakan anugerah yang dipercaya tidak akan habis sampai kapanpun.

Apa Perlu ulas panjang lebar tentang ikan Depik????

Keberadaan ikan depik dan ikan air tawar di danau sepanjang 17 kilometer dan lebar maksimal empat kilometer ini, menjadi penopang hidup bagi masyarakat sekitar. Selain bertani dan berkebun kopi, sebagian masyarakat kawasan ini memilih menjadi nelayan di Danau Laut Tawar. Profesi ini dipilih, karena keberadaan ikan depik telah menjadi penting bagi penduduk sekitar. Harga jualnya sangat tinggi, sehingga ikan berukuran kecil itu paling diburu para nelayan setempat.

Bukan saja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daratan tinggi Gayo, tetapi masyarakat dari luar daerah pun kerap membeli ikan ini. Hal ini disebabkan karena faktor penasaran ingin merasakan gurihnya ikan depik dan faktor souvenir. Biasanya masyarakat luar yang berkunjung ke Takengon, kerap menjadikan ikan Depik kering menjadi salah satu ole-ole sepulang mereka dari sana.

Pacuan Kuda

Sejak beberapa tahun belakangan ini, di dataran tinggi Gayo kerap menggelar even pacuan kuda, baik di kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah maupun Gayo Lues. Di Aceh Tengah sering dilaksanakan di Kota Takengon yang juga berdekatan dengan Danau Laut Tawar. Pesertanya pun kian lama semakin bertambah dan kualitas perlombaan juga semakin baik.

Peserta????

Dalam catatan sejarah, pacu kude, begitu masyarakat setempat menyebutnya, dimulai dari Bintang, sebuah kemukiman paling timur dari Danau Laut Tawar. Pacuan Kuda pertama-tama digelar sekitar tahun 1850 dengan arena pacuan melintasi Wekef hingga Menye berjarak lebih kurang 1,5 kilometer, rutenya memanjang, bukan memutar seperti saat ini. Saat itu, pacu kude diselenggarakan saat setelah panen padi.

Sebelum masyarakat mengenal sarana transportasi modern, kuda memiliki peran penting bagi masyarakat Gayo, terutama sebagai sarana transportasi barang dan manusia serta kegiatan olah tanah di sawah. Namun seiring perkembangan zaman, pacuan kuda juga kerap digelar melalui event-event di daerah ini.

Aceh memang memiliki beragam budaya dan adat istiadat di dataran tinggi Gayo. Pacuan kuda ala Gayo ini memiliki keunikan tersendiri, mulai dari nama kuda hingga penunggangnya pun lebih diperankan anak kecil di bawah umur 13 tahun. Menariknya lagi penungang atau joki cilik ini pun tanpa mengenakan pelana, melainkan hanya memegang sebuah rotan di tangan.

Tradisi pacuan kuda Gayo di Takengon ini pun diselenggarakan di hari hari besar saja. Seperti memperingati hari 17 Agustus dan memperingati hari jadi Kota Takengon. Konon sejak dahulu penjajahan Belanda di Gayo, pacuan kuda ini adalah sebuah pesta rakyat Gayo, dan pacuan kuda ini pun sempat untuk memeriahkan ulang tahun Putri Belanda yang bernama Putri Wilhelmina pada masa itu.

Kini, pacuan kuda itu pun dijadikan ajang silaturahmi antar pecinta kuda masyarakat di tiga Kabupaten Kota yakni, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Selain itu pacuan kuda tradisional Gayo ini pun sudah menjadi wisata halal di Aceh pada umumnya. Karena Aceh saat ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan wisata halal melalui budaya dan adat istiadat yang ada di Aceh.

Wisata Adventure

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Reza Fahlevi, mengatakan, Danau Laut Tawar menyimpan banyak potensi wisata yang dapat digali secara terus-menerus. Kini, Pemerintah Aceh, sedang melakukan studi terkait pengembangan kawasan wisata Danau Laut Tawar, menjadi destinasi wisata dunia. Kawasan wisata di bagian wilayah tengah Aceh termasuk Danau Laut Tawar ini difokuskan untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata adventure atau petualangan di wisata alam.

“Untuk kawasan tengah, kita memfokuskan pada wisata alam atau adventure yaitu di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Potensinya sangat banyak untuk sektor wisata di kawasan tengah ini. Namun kekuatannya ada pada kebudayaan setempat yang menjadi daya tarik tersendiri,” katanya.

Dalam pengembangan sektor wisata di Aceh, Pemerintah Aceh memetakan dalam 4 (empat) pilar yaitu Destinasi, Promosi, Sumber Daya Manusia (SDM) dan industri. Untuk wilayah tengah, termasuk destinasi Danau Laut Tawar, sudah mulai pada pengembangan program promosi dan SDM. Pemerintah telah melakukan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan SDM termasuk untuk pengembangan Danau Laut Tawar, yang dipromosikan sebagai kawasan adventure, disamping agrowisata dan wisata alam yang juga dikembangkan.

Reza Fahlevi yakin, dengan adanya Bandara Rambele yang diresmikan presiden Jokowi di Kabupaten Bener Meriah beberapa tahun lalu, maka akses wisatawan yang berkunjung ke kawasan tengah Aceh semakin mudah. “Banyak kawasan wisata yang dapat ditemui disana. Selain Danau Laut Tawar, ada Putri Pukes, wisata air, boat perahu, memancing di danau, pemandian, kuliner yang termasuk ikan depik dan lainnya,” kata Reza.

Untuk itu, Dia juga mengharapkan pemerintah daerah setempat seperti Kabupaten Aceh Tengah, juga dapat fokus mengembangkan sektor wisata ini. “Akan sukses bila kita bersama-sama mengambangkan itu. Sekarang tugasnya adalah bagaimana kita menciptakan pelaku-pelaku wisata. Misalnya hamparan kebun kopi, bila tidak ada upaya untuk pengembangan wisata di sector ini, maka pengunjung hanya bisa melihat-lihat saja,” ujarnya.

Dia mencontohkan, seperti wisata track sepeda, dapat saja dilakukan dengan menyusuri hamparan kebun kopi yang berjejer di kawasan Danau Laut Tawar. Dengan sepeda dapat melihat pemandangan danau dan bukit-bukit dengan hawa yang sejuk. Hal itu, katanya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Lebih lanjut, Reza Fahlevi mengatakan, secara umum, provinsi Aceh pada tahun ini menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh sebanyak 100 ribu orang dan wisatan nusantara 2,1 juta orang. Hal ini meningkat dari tahun lalu, yang ditargetkan 73 ribu wisatawan mancanegara dan 1,9 juta waisatawan nusantara. “Tahun lalu, target telah tercapai,” ungkapnya.

Reza mengatakan, Pemerintah Aceh kini sedang fokus pada pelatihan-pelatihan pelaku wisata. Pengembangan wisata di kawasan tengah Aceh, bukan hanya tertuju pada Danau Laut Tawar yang dikembangkan, tetapi secara keseluruhan, seperti pengembangan wisata Burni Telong, agrowisata, track sepeda, arung jeuram di Ketambe Aceh Tenggara, wisata pintu masuk Leuser di Kedah Gayo Lues dan sebagainya.

Track Sepeda Jelajahi Pegunungan

Selain event pacuan kuda, beberapa tahun belakangan ini, di dataran tinggi Gayo juga digelar Track Sepeda atau lintasan dengan menggunakan sepeda di track pegunungan Gayo. Seperti pada pelaksanaaan Aceh Bike Cross Country (ABCC) dua tahun lalu di Aceh Tengah dan Bener Meriah dinilai berlangsung sukses. Hal ini merupakan upaya Pemerintah Aceh dalam mempromosikan potensi wisata alam di Dataran Tinggi Gayo.

“Event itu mampu menjadi salah satu event yang dapat memperkenalkan keindahan alam Aceh, khususnya alam Dataran Tinggi Gayo. Dan juga menjadi ajang promosi Aceh di sisi sport tourism dan adventure tourism yang memang saat ini peminatnya di Indonesia sangat besar. Jadi saya pikir, bagus sekali untuk terus kita kembangkan event-event seperti itu, termasuk juga di daerah lainnya di Aceh,” tambah Reza Fahlevi.

Dia menilai, untuk memperkenalkan potensi yang ada di Danau Laut Tawar, bisa dilakukan dengan wisata adventure yang salah satunya adalah menggunakan sepeda gunung. Sehingga para wisatawan dapat melihat secara dekat bagaimana keindahan yang dimiliki di sekitar Danau Laut Tawar. Bukan saja dengan melalui event yang digelar secara resmi, tetapi wisatawan bisa saja setiap waktu melihat panorama Danau dengan menggunakan sepeda.

Segala pemandangan yang mengelilingi Danau, mulai dari wisata kopi arabika Gayo, wisata memancing ikan dan pemandangan bukit-bukit yang indah, dapat dilakukan dengan menggunakan sepeda. Oleh karena itu, Danau Laut Tawar bukan saja dapat dilihat secara visual, tetapi dapat dijelajahi dengan menggunakan sepeda.

Reza mengajak para wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara untuk memanfaatkan waktu melihat keindahan Danau dengan menggunakan sepeda. Sebab, cukup banyak lokasi wisata di sekitar Danau yang menyimpan keunikan dan keindahan yang menakjubkan.

Atu Tingok

Dataran Tinggi Gayo, terutama disekitar Danau Laut Tawar, memang dikenal menyimpan banyak panorama. Dari sekian banyak objek wisata, mungkin hanya beberapa saja yang sudah dikenal dan dikunjungi. Tetapi, salah satu lokasi wisata yang belum banyak terpublikasi adalah kawasan Atu Tingok. Kawasan ini bertempat di Kampung Dedalu Kecamatan Lut Tawar atau sejajar dengan sisi selatan Danau Laut Tawar.

Namanya disebut Atu Tingok karena keberadaan beberapa bongkah batu besar yang teronggok di kawasan Bur Telege. Atu Tingok dimaksud berada dibagian gunung yang sangat miring dan terjal. Ukurannya sekitar 4 x 3 meter agak menonjol keluar seperti tersangkut, sehingga bagi pengunjung yang ingin berdiri diatasnya akan merasa was-was, khawatir akan menjadi beban bagi batu tersebut dan terguling ke bawah.

Dari lokasi Atu Tingok ini, akan terlihat jelas hamparan luas kota Takengon. Angin sepoi-sepoi nan sejuk yang menerpa daun-daun pinus cukup menggugah hati, ditambah lagi alunan music alam dan suara burung-burung yang berkicauan, menambah sempurnyanya pemandangan alam di sekitar atu tingok.

Jalan menuju Atu Tingok tidak sulit, dibandingkan dengan tempat ketinggian lainnya di Aceh Tengah. Hanya sekitar 2 kilometer dari pusat kota Takengon dan bisa diakses dengan segala jenis kenderaan tanpa harus mengandalkan kekuatan mesin secara maksimal.

Untuk mencapai Atu Tingok, dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar setengah kilometer. Bisa dipilih menapaki tangga beton atau di jalan tanah. Pengunjung dapat beristirahat disebuah shelter yang dibangun Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah beberapa tahun silam.

Disekitar shelter, biasanya berkeliaran kuda-kuda, kerbau dan sapi milik sekitarnya yang dilepaskan bebas berkeliaran. Keberadaan hewan-hewan peliharaan diketinggian gunung tentu menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung.

Pantan Terong

Pantan Terong merupakan salah satu obyek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Pantan Terong merupakan tempat di puncak bukit dataran tinggi Gayo. Di lokasi ini, memiliki fasilitas yang cukup baik, dimana wisatawan dapat memanjakan mata dengan pesona keindahan pemandangan pantai sejumlah wilayah Aceh yang terlihat indah dari ketinggian.

Pantan Terong juga terkenal dengan keindahan sunset dan sunrise yang bukan hanya bisa dinikmati di pantai saja. Wisatawan juga bisa melakukan aktivitas yang memacu adrenalin, seperti paralayang (gantole). Pengunjung dapat melihat seluruh pemandangan dengan melayang di atas Danau Laut Tawar, dan juga gunung-gunung dan bukit yang mengelilingi sekitar kota Takengon.

Pantan Terong juga memiliki fasilitas pendukung lainnya, seperti fasilitas ibadah, rumah panggung dan juga beberapa fasilitas tempat untuk duduk-duduk dengan secangkir minuman saat menemani wisatawan memandang alam dari dataran tinggi.

Perjalanan untuk menuju tempat wisata alam di Aceh ini pun tidak sulit. Tidak perlu khawatir karena jalanan menuju tempat wisata pun terpelihara dengan baik. Namun sayangnya wisatawan hanya dapat mencapai puncak bukit dengan menggunakan kendaraan sendiri baik menggunakan mobil atau motor. Selain itu kondisi kendaraan yang digunakan sebaiknya di pastikan benar-benar pas untuk medan yang cukup banyak terdapat tanjakan yang cukup terjal.

Di bagian atas Puncak Bukit dapat memanjakan mata dengan pemandangan yang sangat indah dan menarik untuk dikunjungi. Bagi yang gemar dengan photografi dengan latar pemandangan alam, tentu tempat ini menjadi tempat yang sangat cocok untuk melakukan pemotretan. Pemandangan laut, kota dan juga bukit-bukit yang terhampar di depan mata bisa dijadikan obyek yang menarik untuk wisatawan.

Putri Pukes

Tidak jauh dari kawasan Danau Air Tawar, terdapat sebuah tempat wisata terkenal di Aceh yaitu Batu Putri Pukes. Kawasan ini cukup menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke objek wisata ini. Cerita Batu Putri Pukes mirip seperti cerita Malin Kundang. Batu Putri Pukes terletak disebuah goa kecil diatas bukit dimana anda harus menaiki beberapa buah anak tangga untuk sampai ke mulut goa.

Cerita Putri Pukes yang melegenda itu, masih hidup dalam cerita di zaman modern. Ceritanya, pada jaman dahulu, hiduplah seorang putri dari Takengon bernama Putri Pukes. Ia merupakan putri yang cantik dan  banyak sekali pria yang menyukainya. Namun, pada suatu hari ia bertemu dengan seorang pria tampan yang membuatnya jatuh cinta.

Ternyata pria tersebut juga mencintai Putri Pukes dan pria tersebut memutuskan untuk menikahi Putri Pukes. Namun, ternyata ibunda Putri Pukes yang sangat menyayangi Putri Pukes tidak merestui niat baik sang pria yang ingin menikahi Putri Pukes. Ibunda Putri Pukes Kawatir anaknya akan meninggalkannya jika ia menikah.

Walaupun ibunda tidak setuju, itu tidak menjadi penghalang bagi Putri Pukes untuk menikah dengan pria itu. Tidak ada pilihan lain, ibundanya membiarkan saja Putri Pukes untuk menikah dengan pria yang ia cintai itu. Namun, ibunda Putri Pukes berucap jika engkau sudah menikah nanti dan pergi mengikuti suamimu meninggalkan ibu, jangan sedikit pun kamu menengok ke arah ibundamu.

Hingga tiba waktu pernikahan Putri Pukes dengan pria tersebut, ketika akan berpisah dengan ibundanya yang saat itu Putri Pukes dan suaminya beserta pasukan pengawalnya menuju arah bukit, tak sengaja Putri Pukes menengok ke belakang ke arah ibundanya yang sangat sedih ditinggal pergi olehnya. Seketika saja, Putri Pukes berubah menjadi batu.

Ternyata ibundanya berujar didalam hati jika Puteri Puker menengok ke arahnya saat ia akan pergi dengan suaminya ke atas bukit, maka ia akan menjadi batu. Sang pria yang mencari–cari Putri Pukes karena ia berjalan duluan ke arah bukit, sangat kaget melihat istrinya berubah menjadi batu.

Batu itu pun mengeluarkan air mata terus menerus karena kesedihannya yang mendalam harus berpisah dari suaminya dan ibundanya. Hingga kini batu tersebut masih mengeluarkan air mata namun tidak sesering dahulu, dan bentuk batu dari Putri Pukes ini makin lama makin membesar karena tetesan air dari atas mulut gua.

Jika anda penasaran untuk melihat batu ini, silahkan mengunjungi Kota Takengon, dimana gua batu Putri Pukes ini letaknya di sekitaran kawasan Danau Air tawar. Lokasi wisata ini cukup diminati wisatawan baik local maupun mancanegara. Bahkan, tidak sedikit wisatawan penasaran dengan legenda putrid pukes itu. Objek wisata Gua Putri Pukes yang terletak di Gampong Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah itu pun kerap diserbu pengunjung setiap hari libur.

Harus Diperhatikan

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi, juga meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tengah untuk terus memprioritaskan pengembangan objek wisata di kawasan itu, termasuk Danau Laut Tawar. Segala potensi wisata yang tersimpan di Danau Laut Tawar harus digali dan dikembangkan, sehingga dapat menjadi referensi bagi para wisatawan yang berkunjung ke daerah itu.

Bukan hanya memperlihatkan keindahan yang dimiliki Danau Laut Tawar, tetapi kata Reza, Pemkab harus bisa menggerakan pelaku-pelaku wisata setempat untuk bisa mempromosikan Danau Laut Tawar dari sisi sejarah dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat dalam kaitannya dengan objek wisata Danau Laut Tawar. “Sejarah objek wisata itu, yang mengetahui adalah masyarakat setempat. Oleh karena itu harus digali dan harus ada peran pemkab untuk fokus mengembangkan ini,” kata Reza.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani menambahkan bahwa promosi objek dan daya tarik wisata dataran tinggi Gayo juga semakin meningkat, seiring dengan semakin dikenalnya dataran tinggi Gayo sebagai destinasi wisata adventure dan agrowisata unggulan melalui pelibatan komunitas media sosial.

“Destinasi wisata dataran tinggi Gayo semakin dilirik oleh wisatawan dengan ragam pesona wisatanya yang unik dan menarik, selain keunikan Danau Laut Tawar dengan ikan depiknya. Hal ini tidak terlepas dari peran komunitas masyarakat setempat yang gigih mempromosikan daerahnya, salah satu melalui beberapa akun media sosial Instagram berikut ini dengan jumlah pengikutnya yang relatif tinggi, seperti explore_gayo, gayodiatasawan, etnisgayo, lintasgayo, gallery_ gayo, ilovegayo, wonderfullgayo, wisata_gayo, dll. (ADV)

Komentar

Loading...