Khawatir Kebijakan Trump, Rupiah Amblas ke Rp13.865

CNN Indonesia/Safir Makki
CNN Indonesia/Safir Makki

Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS amblas pada perdagangan hari ini dan sempat menyentuh Rp13.865 atau melemah hingga 5,55 persen dari Rp13.138 kemarin. Hal itu akibat spekulasi kenaikan suku bunga AS yang lebih cepat dari perkiraan karena kebijakan Presiden AS yang baru, Donald Trump.

Penjelasannya, jika suku bunga AS naik lebih cepat dari perkiraan, maka investor berbondong-bondong untuk mengalihkan investasi ke Negeri Paman Sam tersebut. Hal itu membuat nilai tukar dolar AS menguat karena dinilai lebih menarik.

Pelemahan kali ini merupakan yang terparah sejak September 2011. Sementara di kawasan Asean, dolar AS juga menguat terhadap ringgit Malaysia, peso Filipina dan baht Thailand.

Kepala Riset Daewoo Securities, Taye Shim mengatakan, Donald Trump berencana menaikkan anggaran belanja pemerintah, yang berpotensi meningkatkan inflasi AS. Hal itu membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed mungkin harus menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

“Mengingat tren sekular di pasar uang bergantung pada pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan arah suku bunga dari kedua negara, pengeluaran pemerintah yang lebih tinggi di AS dapat memacu pertumbuhan. Sementara kenaikan suku bunga yang diprediksi lebih cepat akan mendorong nilai tukar dolar AS,” jelasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi tak sesuai karena pendapatan yang dinilai bakal lebih rendah. Pasalnya, dalam kampanye, Trump menyatakan bakal memangkas tarif pajak, yang akan menurunkan pendapatan negara.

Tetapi, lanjutnya indeks dolar yang melemah seharusnya bisa memberikan topangan terhadap rupiah pada hari ini, walaupun kekhawatiran terhadap hasil pemilu AS bisa mengembalikan ketidakpastian dalam waktu singkat.

“Fokus domestik juga akan tertuju pada consumer confidence index yang rilis hari ini dan diperkirakan memburuk. Cadangan devisa serta pertumbuhan PDB menjadi yang berikutnya ditunggu, dijadwalkan diumumkan awal minggu depan. Rupiah diperkirakan masih diliputi sentimen pelemahan pada perdagangan hari ini,” jelasnya.

Di sisi lain, ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta mengatakan rupiah tertekan isu domestik. Ia menilai rupiah melemah pada perdagangan Kamis lalu bahkan di saat dolar AS melemah terhadap mayoritas kurs di Asia.

“Faktor domestik yang semakin negatif, termasuk kekhawatiran demonstrasi yang bisa berujung kerusuhan di Jakarta hari ini, menjadi penyebab utama tertekannya rupiah,” ujarnya dalam riset.  (cnnindonesia.com)

Rubrik:News

Komentar

Loading...