Donald Trump Menangi Pilpres Amerika Serikat

foto ABC News
foto ABC News

NEW YORK - Donald Trump berhasil memenangi pemilihan Presiden Amerika Serikat, Selasa (8/11) waktu setempat.

Berdasarkan situs pencari Google yang melakukan update setiap 30 detik, Trump telah memenangkan Pilpres AS setelah meraih 276 suara elektoral. Sementara itu pesaingnya Hillary Clinton hanya mendapatkan 218 suara elektoral.

Pantauan Beritasatu.com, hingga Rabu (9/11) pada pukul 14.35 WIB, tambahan 10 suara elektoral dari negara bagian Wisconsin membuat Trump melewati batas minimum 270 suara yang diperlukan guna memenangkan Pilpres AS.

Seperti diketahui untuk memenangi pemilihan presiden, seorang kandidat harus mendapatkan 270 suara elektoral dari 538 suara elektoral yang diperebutkan.

Sebelumnya, tidak ada pengamat politik maupun lembaga survei yang memprediksi kemenangan spektakuler biliuner kontroversial itu.

Calon Presiden Partai Republik itu telah mengalahkan lawannya dari Partai Demokrat, Mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton.

Kemenangan Trump dipastikan Rabu (9/11/2016), pukul 02.30 dini hari waktu bagian timur AS.

Sejumlah lembaga survei memproyeksikan kemenangan Trump di negara bagian Wisconsin yang memberikan 270 electoral votes yang diperlukan Trump untuk menjadi penghuni baru Gedung Putih.

Aroma kemenangan pebisnis yang lahir 14 Juni 1946 ini sudah mulai tercium setelah dia tanpa terduga menghancurkan benteng pertahanan “Blue Firewall” Hillary.

Trump membuat shock pendukung Hillary dengan meraih kemenangan meyakinkan di Wisconsin dan Pennsylvania yang selalu memilih capres Demokrat sejak pilpres 1988.

Revolusi Rust Belt untuk Kemenangan Trump menjadi simbol terjadinya Revolusi Pekerja Berkerah Biru (Blue Collar) ironisnya berbasis di “Blue Firewall” milik Hillary yaitu di Pennsylvania, Wisconsin, dan Michigan.

Negara bagian yang sering disebut “Rust Belt States” ini didominasi oleh pemilih berkulit putih berkerah biru yang kebanyakan tidak berpendidikan ke jenjang universitas.

Pemilih ini adalah pemilih kelas pekerja yang terpikat oleh retorik populis Trump yang mengecam globalisasi dan perdagangan bebas.

Faktor itu yang diyakini mengakibatkan mereka kehilangan pekerjaan terutama di sektor manufaktur yang dialihdayakan ke luar AS.

Demografi pemilih ini kebanyakan tinggal di kota kecil dan daerah pertanian.

Sosok outsider Trump

Kemenangan Trump juga menjadi simbol kemarahan rakyat AS terhadap elite politik di Washington DC yang dinilai tidak peka terhadap kesulitan ekonomi yang dihadapi mereka.

Rakyat menyuarakan frustasinya terhadap para politisi dari kedua partai baik Demokrat maupun Republik yang terus berseteru tanpa henti menimbulkan gridlock di pemerintahan.

Sosok Trump dengan status outsider-nya sebagai seorang pebisnis sukses tanpa latar belakang politik dinilai sebagai wajah baru yang berbeda dengan politisi di Washington.

Akhir era Hillary

Jalan terjal Hillary sudah mulai terasa setelah kekalahan yang dideritanya di sejumlah swing state krusial Florida, Iowa, Ohio, dan North Carolina.

Selain itu Hillary juga mengalami kesulitan untuk meraih kemenangan di Virginia, di mana dia selalu memimpin jauh di survei.

Hillary akhirnya menang, namun sangat tipis. Hasil tipis ini merupakan mimpi buruk bahwa kekalahannya sudah di depan mata. (sumber- beritsatu.com/kompas.com)

Komentar

Loading...