Demi Menghidupi Ayah, Ibu dan Adiknya, Remaja Asal Aceh Utara Ini Panjat Pinang

@Waspada Online

@Waspada Online
@Waspada Online

Lhoksukon, (Acehportal) - Remaja yang masih berusia 16 tahun ini tidak pernah mengaku lelah. Puluhan pohon pinang setiap harinya ia panjat demi menghidupi ayah, ibu dan adiknya yang masih kecil. Sayangnya, ia kini putus sekolah.

Namanya Mustafa, si Itam adalah panggilan akrab yang disapa teman sekampungnya. Bersama keluarganya ia kini berteduh dibalik rumah gubuk yang terletak di Desa Ie Tarek II, Kecamatan Simpang Kramat, Kabupaten Aceh Utara.

Hidup di bawah garis kemiskinan membuat Itam berhenti dari sekolahnya. Terlebih sang ayah, Sulaiman (65) yang telah lama terbaring sakit. Penyakit darah manis kering membuatnya terus terbaring di kasur, mencari rezeki pun dihentikan.

“Sejak ayah sakit-sakitan, saya berusaha menjadi pengganti ayah yang bertanggungjawab terhadap keluarga,” ucap Itam saat ditemui Waspada online bersama wartawan lainnya dan tim Lembaga Peduli Dhuafa Aceh (LPDA) di rumahnya, Jumat (27/5).

Tidak ada pilihan lain yang dapat ia lakoni. Penghasilan dari panjat pinang hanya mampu mengumpulkan Rp2 ribu untuk satu pohon saja. Setiap harinya ia mampu memanjat puluhan pohon, itupun tidak setiap harinya ia lakukan, mengingat masa panen buah pinang yang begitu lama.

Tak ada rasa keluh yang diakui si remaja putus sekolah ini. Dari wajahnya yang penuh semangat membuat kita dapat belajar darinya bahwa pentingnya untuk mensyukuri apa yang diberi Allah SWT.

Jemari-jemari kecilnya menjadi tumpukan harapan keluarga dan ketiga adiknya. Sebagai anak tertua, Itam rela menghabiskan waktunya menjadi tukang panjat pohon pinang di desanya bahkan di kecamatan tersebut sudah tidak asing lagi dengan nama Itam atau Mustafa.

Tak hanya Mustafa, nasib serupa dialami Nek Rukiah (88) dan Nek Fatimah (85). Dua orang nenek yang kondisinya kian melemah ini tinggal sekampung dengan Mustafa. Kondisinya kian memprihatinkan. LPDA turut menyantuni sejumlah warga miskin tersebut. Bahkan, Nek Rukiah akan segera dirujuk ke rumah sakit, besok.

Musfendi AR selaku Ketua LPDA, mengatakan, santuan yang mereka berikan adalah sebagai bukti kepeduliannya untuk saling berbagi kepada kaum dhuafa. Pihaknya mengupayakan ke depan kegiatan semacam ini menjadi kegiatan rutin.

“Kita tetap komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi mereka, besok kita bawa nek Rukiah ke rumah sakit dan terus didampingi hingga dipastikan dari pihak rumah sakit bahwa Nek Rukiah sembuh,” ujar Musfendi.

Dalam hal ini, pihaknya juga mengharapkan kepada para donatur untuk mau berbaur membantu nek Rukiah yang mengalami sakit aneh.

“Maka dari itu kami harapkan semoga ada donatur yang ingin menyumbang untuk meringankan beban/derita selama tiga tahun yang dialami oleh Nek Rukiah,” jelasnya.

Sementara untuk Mustafa, pihaknya akan berusaha menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dimana rumah yang mereka tempati tidak layak huni sama sekali dan sangat memprihatinkan. (Okezone)

Komentar

Loading...