Toko Tani dan OP Gagal Redam Pasar

GULA PASIR Pedagang mengemas gula pasir ke dalam bungkusan plastik di Pasar Simpang Limun, Medan, beberapa waktu lalu. Gula pasir putih di Medan dipasarkan di harga Rp 14.500 hingga Rp 15.000/kg. (medanbisnis/hermansyah)
GULA PASIR Pedagang mengemas gula pasir ke dalam bungkusan plastik di Pasar Simpang Limun, Medan, beberapa waktu lalu. Gula pasir putih di Medan dipasarkan di harga Rp 14.500 hingga Rp 15.000/kg. (medanbisnis/hermansyah)

Munthe, (Acehportal) - Operasi Pasar (Op) gula dan Toko Tani Indonesia (TTI) sebagai upaya stabilisasi harga di pasaran ternyata belum memberikan efek terhadap penurunan harga komoditas pangan di pasar. Pedagang masih memasarkan beras IR 64 di harga Rp 9.500 hingga Rp 10.000 per kg.

Sedangkan gula putih masih dipasarkan di harga Rp 14.500 hingga Rp 15.000 per kg. Seperti amatan MedanBisnis, di Pusat Pasar Tradisional Medan, beras pun masih stabil di harga Rp 9.500 per kg, bahkan kualitas tertentu cenderung semakin mahal.

Acuan, pedagang beras dan gula di Pusat Pasar, Selasa (24/5) mengatakan, harga beras masih dipasarkan di harga Rp 9.500 hingga Rp 10.000 per kg untuk jenis IR 64. Sedangkan jenis kuku balam dipasarkan di harga Rp 11.500 per kg.

Saat menyinggung beras TTI yang dipasarkan di harga Rp 7.500 per kg, Acuan mengaku tidak mengetahuinya. "Beras TTI, apa itu? Di mana ada beras itu?" kata Acuan seraya menambahkan dia hanya memasarkan beras jenis IR 64 dan kuku balam.

Demikian halnya dengan gula putih. Kebutuhan pokok ini dipasarkan di harga Rp 15.000 per kg."Harga gula belum stabil. Pengambilan gula dari grosir saja sudah Rp 14.100 per kg. Harga ini, sudah tidak tiga hari, sebelumnya sempat naik menjadi Rp 14.300 per kg," ujarnya.

Bagi Acuan, baik ada OP dan TTI sebagai upaya stabilisasi harga, tidak memberikan pengaruh apa-apa. "Tidak ada pengaruhnya, dan di sini tidak ada OP," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Fery, pedagang beras di Pasar Sukaramai. Dia juga tidak mengetahui, jika ada beras TTI dan OP gula. " TTI?, nggak tau, dan di sini juga tidak ada OP," ujarnya.

Dia sendiri memasarkan beras jenis IR 64 dan kuku balam. Harga yang ditawarkan juga bervariasi, tergantung kualitasnya. Sedangkan untuk gula dia memasarkan berkisar di harga Rp 14.500 per kg.

Etty, warga Jalan Bromo yang ditemui di sela-sela belanja mengaku untuk harga gula putih masih dibeli dengan harga Rp 15.000 per kg. "Gula yang mahal, dan belum pernah beli pas OP," ujarnya.

Di sisi lain, Neva warga Jalan Gurilla yang sudah mendapatkan gula OP ini, mengaku sangat terbantu. "Kemarin pas OP, kita dapat gula 2 kg. Per kg Rp 12.000, murah dan sangat membantu," ujarnya.

Namun untuk OP ini sambungnya, pembeliannya juga dibatasi. Karena satu orang hanya bisa mendapatkan jatah 2 kg.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sumut Abubakar Sidik mengatakan pergerakan harga berbagai komoditas pangan yang terus meningkat menjelang Ramadhan dan Lebaran tahun ini, harus disikapi dengan tegas. "Pergerakan harga tidak cukup diatasi di hilir tetapi juga di hulunya," katanya.

Dia mengemukakan, operasi pasar yang selama ini dilakukan untuk menekan harga adalah tidak cukup, karena hanya memerangi di sektor hilir (di bagian akhir lingkaran pemasaran), akan tetapi harus di sektor hulu (di awal pemasaran).Karena itu harus dilakukan aksi mememerangi di sektor hulu, misalnya dengan menindak produsen ataupun distributor nakal yang diduga kuat menjadi aktor penyebab mahalnya harga-harga bahan pokok.

Menurutnya, masyarakat atau konsumen harus dilindungi. Karenanya pemerintah maupun aparat hukum yang mewenangi harga-harga, harus bertindak tegas sesuai dengan ketentuannya.

Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Perwakilan Medan Abdul Hakim Pasaribu mengatakan pihaknya sudah bekerja untuk menyelediki ketidakwajaran kenaikan harga-harga bahan pokok. "Ya, tim kami terus bekerja," katanya.

Pasalnya, kenaikan harga yang tidak wajar yang diakibatkan persekongkolan dan unsur kesengajaan menimbun stok bahan-bahan pokok, adalah melanggar pasal 5 dan pasal 11 UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

"Sehingga dengan hasil penyeledikan nantinya bahwa memang sudah terbukti, jelas akan kami berikan sanksi tegas," kata Abdul Hakim Pasaribu.

Kepala Humas Bulog Divre Sumut Rudi Adlin mengatakan pihaknya terus menekan harga-harga bahan pokok yang naik, di antaranya dengan menggelar OP dan menguatkan kemitraan dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Menurutnya harga sejumlah bahan pokok di Medan berangsur pulih seperti bawang merah yang sudah menyentuh Rp 40.000 - Rp 41.000 per kg dari harga sebelumnya Rp 45.000 - Rp 46.000 per kg. "Dan operasi pasar akan terus kita lakukan sampai harga-harga benar-benar wajar," katanya.(MedanBisnis)

Komentar

Loading...