Putra Aceh Ciptakan Mesin Penyulingan Minyak Atsiri

ilustrasi @int

ilustrasi @int
ilustrasi @int

Sabang (Acehportal) - Warga Kabupaten Pidie Jaya, Effendi (30) yang hanya tamat SMA itu berhasil menciptakan mesin penyulingan minyak atsiri.

"Saya menciptakan alat ini sendiri tanpa ada bimbingan dari siapapun," kata Effendi yang mengikuti Pameran Tehnologi Tepat Guna (TTG) ke-XI se Aceh di Sabang, Rabu.

Mesin penyulingan minyak atsiri tersebut merupakan satu-satunya mesin tercanggih produksi anak negeri "Serambi Mekkah" yang ditampilkan pada pameran TTG yang diikuti oleh 23 kabupaten/kota se-Aceh berlangsung sejak tanggal 21 sampai 25 Mei 2016.

Efendi mengakui, alat produksi minyak atsiri itu diciptakan bermula dari membaca sebuah buku dan dalam buku tersebut tertulis mamfaat dan kegunaan minyak atsiri.

"Saya penasaran dengan nama atsiri lalu saya mendalaminya dan muncullah niat untuk membuat mesin pengolahan minyak atsiri," katanya.

Dalam perjalanan panjang menciptakan alat penyulingan itu, Effendi pernah beberapa kali gagal dan dia tidak gampang menyerah begitu saja dan terus mendalaminya sampai membuahkan hasil.

"Mesin ini siapnya empat bulan dan pernah gagal tapi saya tidak menyerah dan terus berupaya dengan serba keterbatasan," ujarnya.

Minyak atsiri memiliki banyak kengunaan diantaranya, untuk perawatan tubuh, rambut, bahan terapi atau Saudi Press Agency (SPA), farmasi dan lebih ramah lingkungan lagi praktif.

"Dari mesin ini bisa memproduksi minyak atsiri dengan bahan baku, jahe, pala, cengkeh, sereh wangi, akar wangi, kayu manis, kayu gaharu dan daun nilam," jelas Effendi.

Effendi berharap, mesin yang ia ciptakan dapat dimamfaatkan dengan maksimal oleh semua pihak demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani yang mana selama ini hasil produksi pertanianya dibeli dengan harga yang murah.

"Alat ini saya buat menghabiskan biaya tidak kurang dari Rp30 juta dan itu uang pribadi saya tidak ada bantuan dari pihak manapun, sayang jika alat ini tidak digunakan dengan optimal oleh pengusaha maupun pemerintah," katanya.

Dia juga mengakui, sudah pernah membuat minyak atsiri dari bahan  baku utama jahe yang mana terlebih dahulu jahe tersebut dikukus, direbus atau melalui proses penguapan.

"Jika mesin ini kita operasikan selama 12 jam bahan baku yang dibutuhkan sebanyak 100 kilogram dan perkilo minyaknya terjual dengan harga Rp2,8 juta dan itu pernah saya jual melalui agen di Medan, Sumut," tuturnya.

Ia berharap dapat perhatian khusus dari pemerintah untuk pengembagan lebih lanjut.(Antara)

Komentar

Loading...