Siswi Bakar Kelasnya Diproses Hukum, Sekolah Harus Beri Pendampingan Khusus

Ketua KPAI Asrorun Niam (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Ketua KPAI Asrorun Niam (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Ketua KPAI Asrorun Niam (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Jakarta, (Acehportal) - Siswi kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah (setara SD) di Sukoharjo, Jawa Tengah, membakar kelasnya karena kesal diejek teman-temannya. Pihak kepolisian pun memidanakan siswi tersebut, meski tidak menahannya.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar pihak sekolah memberikan pendampingan khusus. Hal ini penting agar tidak mengganggu tumbuh kembang si anak.

"Pihak sekolah perlu memberikan pendampingan khusus kepada yang bersangkutan," ucap Ketua KPAI Asrorun Niam, Selasa (24/5/2016).

Selain itu, Niam menegaskan bahwa sekolah perlu melakukan pencegahan agar siswi itu terhindar dari bullying. "Sekolah juga perlu memastikan mekanisme pencegahan terjadinya bullying terhadap anak yang bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak," kata Niam menambahkan.

Sebelumnya, Niam juga mendorong agar kasus tersebut tidak diproses hukum. Seharusnya upaya kekeluargaan lebih dikedepankan.

Niam menjelaskan, sesuai UU nomor 11 tahun 2012, bahwa usia pertanggungjawaban hukum pidana bagi anak adalah usia 12 tahun. Anak di bawah usia 12 tahun tidak dapat diproses secara hukum. Bila anak pada usia 12-14 tahun, bisa diproses tapi tak boleh ditahan.

"Harus diupayakan jalur mediasi," tegas Niam.

Siswi berinisial V membakar kelasnya beberapa waktu lalu karena kesal diejek. Dia membakar gorden, tapi menyambar ke yang lainnya. Menurut Niam, jika keluarganya dari kalangan berada kerusakan bisa diganti. (detik)

Komentar

Loading...