Ini Kronologis Bentrok Warga Cot Mee dan Cot Rambong dengan Polisi

bentrok foto: Analisa
bentrok foto: Analisa

Meulaboh, (Acehportal) - Seratusan warga yang berasal dari Gampong (desa) Cot Mee, Kecamatan Tadu Raya dan Gampong Cot Rambong, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, terlibat bentrokan dengan polisi setelah nekad menghadang mobil tahanan di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh, Aceh Barat, Kamis (19/5).

Bentrokan terjadi ketika warga kedua desa menggelar aksi unjukrasa menuntut pem­bebasan empat rekan mereka yang kembali disidangkan di PN Meulaboh dalam kasus dugaan pembakaran barak milik PT Fajar Baizuri.

Pantauan Analisa, bentrokan antara polisi dan warga itu terjadi selama 20 menit, ditandai aksi dorong-men­dorong dari pukul 12.30 Wib dan baru reda sekitar pukul 12.50 Wib.

Aksi unjukrasa menuntut pem­bebasan rekan mereka yang disi­dangkan di PN Meulaboh kemarin itu, merupakan yang kedelapan kali­nya digelar oleh warga kedua gam­pong tersebut.

Salah seorang mahasiswa Aceh Barat selaku koordinator aksi, M Idris (25) mengungkapkan, bentrokan di halaman PN Meulaboh itu berawal saat polisi yang mengawal aksi un­juk­rasa tidak mengizinkan warga untuk bertatap muka dengan rekan­nya saat dimasukkan ke mobil tahan­an.

Memuncak

Emosi warga memuncak ketika polisi hanya mengizinkan pihak keluarga untuk melihat tahanan melalui jendela mobil tahanan saja. Warga memaksa agar tahanan semen­tara dikeluarkan dari mobil untuk ber­t­emu dan bersalaman dengan famili maupun warga.

Karena permintaan itu tidak dires­pons polisi, warga menjadi emosi dan menghadang mobil tahanan itu, se­hingga terjadilah aksi dorong dengan polisi, bahkan sempat terjadi aksi pemukulan,” katanya.

Imbas dari bentrokan tersebut, salah seorang keluarga tahanan jatuh pingsan karena polisi tetap tidak mengizinkannya untuk bertemu ta­hanan secara langsung.

Ada beberapa warga menjadi kor­ban pukulan polisi pada saat ben­trokan. “Saya rasa tidak wajar jika po­lisi bersikap arogan seperti ini terha­dap masyarakat yang sedang mem­per­juangkan keadilan,” tegas M Idris..

Sementara itu, puluhan aktivis perempuan dengan menggunakan pengikat kain putih di kepala bertulis­kan; “Save pejuang agraria” di lokasi yang sama menggelar aksi unjukrasa lanjutan menuntut keempat warga yang ditahan agar segera dibebaskan. Mereka juga menggelar doa di depan Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh.

Perwakilan aktivis perempuan ter­sebut, Lismawati (17) menyebut­kan, tuduhan kepada keempat warga masing-masing Asubki, Musilan, Khaidir, dan Julinaidi membakar barak PT Fajar Baizuri, sangat tidak­lah masuk akal.

Sebab, saat kejadian mereka tidak berada di tempat. Dalam hal ini, dinilai ada indikasi pihak perusahaan menim­pakan permasalahan kepada keempat warga Cot Mee tersebut karena selama ini mereka sangat getol memperjuang­kan tanah adat warga.

“Kami sangat curiga kepada pihak perusahaan karena telah mengha­dirkan 14 saksi. Tidak mungkin saksi sampai sebanyak itu. Kami menilai, dalam hal ini sepertinya ada per­mainan antara saksi dengan perusa­haan.” ujar Lisnawati.

Karena itu, pihaknya berharap pe­merintah daerah segera turun tangan menyelesaikan sengketa warga de­ngan perusahaan, sebab kalau dibiar­kan terus berkelanjutan dikhawatir­kan dapat menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.(Analisa)

Komentar

Loading...