Ada Berapa Bentuk Rencong ?

H.Harun Keuchik Leumiek
H.Harun Keuchik Leumiek

Catatan: War Djamil. PAGI itu. Hari Sabtu, 23 April 2016. Di ufuk Timur. Ter­lihat sinar mentari dengan kemilau indah, mencuat. Perlahan tapi pasti, terus me­ninggi. Ternyata, sekitar lima jam kemudian, ada kemilau lain. Di kota Me­dan, tepatnya resto “Bariani House”. Diluncurkan buku “Kemilau Warisan Bu­daya Aceh” karya H.Harun Keu­chik Leumiek (populer disingkat Hkl).

Dua Bahasa

Tak menanti lama. Hari Minggu esok­nya. Saya kembali membolak-balik buku setebal 381 halaman ini. Butuh waktu tiga pekan, untuk membaca lembar demi lembar sekaligus menikmati sejumlah foto yang memberi informasi sangat akurat. Wajar, jika dalam sambutan sejumlah tokoh saat peluncuran buku itu mengatakan: Ini buku spektakuler. Fe­nomenal. Luar biasa. Saya coba membuktikan ungkapan itu.

Pertama, buku itu isinya diurai dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Ini bermakna, termasuk dalam pe­ringkat internasional. Dan, memu­dahkan orang asing untuk mengetahui warisan budaya Aceh.

Kedua, dari daftar isi. Terdiri 9 ba­gian. Tiap bagian diurai dengan sing­kat. Simak. Dalam Bagian I tentang mengapa perlu perhiasan tradisional Aceh dikoleksi. Bagian II mengenai in­dahnya perhiasan Aceh, menyita 100 ha­laman lebih. III. Tentang tempat si­­­r­ih. IV. Mengenai senjata pusaka Aceh. Bagian V terkait mata uang kuno. VI. Lambang Kera­jaan Aceh, dikenal dengan Cap Sikureueng. VII. Uraian tenun sutra motif Aceh. Bagian VIII kitab kuno. Dan, bagian IX terkait keramik dan porselin.

Ketiga, tampilan foto-foto (dominasi warna) dengan be­berapa hitam-putih yang begitu menarik. Bahkan saya ter­pesona, tatkala pada halaman tertentu disajikan foto warna dua halaman penuh.Indah sekali. Misal halaman 4 - 5. Juga 142-143 dengan foto rencong.

Keempat, penulisannya. Uraian dengan untaian kata menjadi kalimat yang mudah dipahami. Bahkan dikupas dengan padat, memberi informasi mendalam.

Sebut saja tentang senjata khas Aceh, rencong. Diungkap, ada bebe­rapa bentuk rencong. Senjata lain, dinamai siwah, yang menyerupai rencong. Contoh lain tentang gelang. Ternya­ta ada sejumlah bentuk gelang yang sangat menarik dan indah.

Kelima, tentu saja saya harus me­ngatakan dengan gamblang. Buku ini di­cetak dengan kategori “superlux”. Bu­kan hanya jenis kertas. Tetapi, de­ngan ukuran 23 x 30 cm, hurufnya je­las. Cover yang menarik. Tak heran, ji­­ka ditimbang, beratnya 4 (empat) ki­lo­gram. Bukan main.

Saya Kagum

Sepekan setelah peluncuran, saya berbincang dengan Prof.M.Jusuf Hanafiah, Rektor USU dua periode ini mengata­kan rasa kagum atas kehadiran buku ini. Luar biasa. Ketekunan pak Harun tergolong luar biasa. Meski saya baru baca sebagian, tetapi isi­nya sangat bagus. “Saya ingin m­e­ngun­­jungi museum koleksi pribadi­nya itu”, ucapnya.

Begitu pula tokoh muda Aceh, H.Bus­tami Usman SE yang pernah sebagai Sekretaris Lembaga Adat dan Ke­budayaan Aceh (LAKA) di Me­dan. Saya kagum. Sungguh. Buku ini me­ru­pakan upaya dari pelestarian dan untuk tetap menjaga warisan budaya Aceh.

Apa komentar Gubernur Aceh dr. H.Zaini Abdullah ? Da­lam sambutan tertulis disebutkan, mengoleksi benda benda bu­daya yang bernilai tinggi, tidak mudah dilakukan oleh sem­ba­rang orang. Ini sebuah pengabdian luar bi­asa yang di­la­ku­kan H.Harun Keu­chik Leumiek dalam usaha me­nye­la­mat­­kan benda-benda pusaka warisan “endatu” rakyat Aceh.

Kehadiran buku ini menjadi kontri­busi berharga dalam mem­per­kenalkan kha­zanah budaya Aceh bagi ma­sya­rakat dunia, ucapnya, dan ini juga men­­jadi inspirasi bagi rakyat Aceh untuk memberikan dedikasi perjua­ngan serupa dalam menggali aspek sejarah kejayaan bangsa Aceh masa lampau.

Koleksi Pribadi

Saya berulangkali masuk ke museum pribadi Hkl di Banda Aceh. Dalam rumahnya yang tergolong luas inilah, dijadikan­nya museum pribadi. Begitu masuk, terlihat piagam dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Anda pasti terkesima menyaksikan koleksi, dari satu ruangan ke ruangan lain. Meski tidak seperti museum umum, karena ini rumah pribadi, pe­ngaturannya juga sedemikian rupa.

Sejumlah dutabesar negara sahabat dan tokoh dari luar negeri lainnya singgah ke sini. Dari sejumlah koleksi inilah, menjadi isi buku Kemilau Warisan Budaya Aceh.

Saya ingin menyarankan, agar Hkl berkenan menghadiah­kan satu-dua buku ini menjadi koleksi perpustakaan umum di Aceh dan kampus Unsyiah/UIN. Juga di perpustakaan daerah di ko­ta Medan. Bahkan, wajar jika di­ki­rim ke perpustakaan nasional serta Arsip Nasional di Jakarta.

Untuk apa ? Agar makin banyak pihak, teristimewa generasi muda In­done­sia mengetahui dan mendapat info akurat tentang salah satu warisan budaya di Indonesia yakni dari kebudayaan Aceh yang memang luar bia­sa itu.

Selamat atas peluncuran buku ini. Saya yakin, memberi manfaat besar bagi bangsa dan negara tercinta, Indonesia.(Analisa)

Komentar

Loading...