Kisah Selamatnya Mahasiswa Ini Saat Banjir Bandang di Sibolangit

@analisadaily

@analisadaily
@analisadaily

Mordang Harahap (18) tak me­nyangka musibah besar akan menim­panya dan rekannya hari itu. Bersama dengan dua temannya, Zahra dan Dwi, ia ikut rombongan mahasiswa STI­KES Flora mengujungi objek wisata Air Ter­jun Dua Warna di Sibolangit, Sabtu (14/5) malam. Mereka berke­mah di sekitar lokasi bumi perke­mahan Sibolangit.

Minggu paginya, rombongan Mor­dang berangkat ke air terjun terkenal itu sekitar pukul 10.00 WIB dan sam­pai di lokasi pukul 13.00 WIB. Tak ada firasat apa pun, mereka lalu makan siang ber­sama. Namun air yang ber­warna biru keabu-abuan yang menjadi daya tarik air terjun tersebut tiba-tiba berubah keruh.

"Tiba-tiba air menjadi keruh dan se­makin lama semakin meluap. Ba­rang-barang bawaan kami hanyut dan semua berlarian. Saya langsung me­man­jat te­bing sekuat tenaga," ujarnya dengan suara bergetar di Posko Basarnas, mata­nya merah mengingat kejadian yang hampir merenggut nya­wanya. Ia satu-satunya korban yang ditemukan selamat dari 22 orang yang dinyatakan hilang pada hari itu.

Ia mengaku sempat memegang ta­ngan salah satu teman sekolahnya di Pesantren Darrul Mursyd Sipirok, Rizky Ayu Zahra. Namun air menjadi semakin meluap dan menghanyutkan semuanya termasuk temannya itu. Saat tangan Za­hra terlepas dari geng­gamannya, teman­nya itu sempat me­neriakkan namanya.

"Beberapa orang yang juga me­manjat tebing juga tak kuat bertahan lalu mele­paskan pegangan hingga terseret banjir. Saya terus ber­gan­tung­an sekuat tenaga, saya pegang ran­ting, rumput, bebatuan dan apa saja yang bisa saya pegang," kenangnya.

Mordang dan kedua rekannya baru saja lulus dari pesantren dan berniat melanjutkan pendidikan mereka ke per­guruan tinggi negeri ternama di tanah air. Mordang sendiri ingin masuk ITB, karenanya ia ke Medan untuk mengikuti bimbingan belajar pada awal Mei lalu dan menginap di rumah kos Jalan Hayam Wuruk Me­dan. Ketika ada ajakan untuk be­rekreasi ke Air Terjun Dua Warna, ia pun setuju tanpa pikir panjang.

Sejak pukul 14.00 WIB Mordang berpegangan pada apa yang bisa ia pe­gang di tebing, ketinggian air menu­rutnya mencapai 20-25 meter. Pada malam harinya Mordang baru ditemu­kan petugas evakuasi dan baru bisa diturunkan pukul 00.00 WIB.

"Saya sempat pegang tangan dia (Zah­ra-red) cuma karena air naik terus dengan deras, saya tidak kuat lagi, 20 meter tinggi airnya. Saya merasa frus­tra­si dan mau lompat tapi saya masih pu­nya iman sehingga tidak jadi lom­pat," ungkapnya. Mordang tak meng­alami luka se­rius selain hanya goresan-goresan kecil. Ia lalu diungsikan di salah satu penginapan. Keluarga dan teman-temannya langsung menjumpainya di rumah itu. Plt Guber­nur Sumut, Teuku Erry Nuradi sempat pula berbincang dengannya di sela-sela kunjungan.

Di bagian lain, Mordang menye­but­kan, pemandu rombongan mar­ga Guru­singa hanya mampu berusaha me­nyela­matkan dirinya, karena pe­mandu ke­sulitan menye­la­matkan yang lain, akibat de­rasnya banjir dari arah  telaga dua warna.

“Saya masih bisa berusaha mene­bang tiga batang po­honan untuk dija­dikan tangga naik ke atas tebing yang terjal,” tambahnya.

Setelah tim SAR datang men­dekati­nya, dia dibawa ke Pos­ko dan mendapat perawa­tan medis dari petugas UPT Pus­kesmas Sibolangit dipim­pin dr Tomo.

Kondisi Mordang, kata dr Tomo, hanya mengalami ke­ram pada bagian kaki mungkin karena harus bertahan selama delapan jam di sisi alur sungai itu. Mordang tak akan pernah bisa melupakan kejadian yang menim­panya dan sahabatnya itu. (analisadaily)

Komentar

Loading...