MaTA: Penerima Dana Kasbon Fiktif Wajib Menjadi Tersangka

karika

Korupsi Dana Kasbon Aceh Tenggara

Banda Aceh (Acehportal): Masyarakat masih mempertanyakan penanganan kasus korupsi aliran dana kasbon fiktif Aceh Tenggara (Agara), tahun 2004-2006 yang telah merugikan negara Rp21,4 miliar.

Hingga saat ini Kejaksaan Tinggi Aceh belum menetapkan tersangka baru selain mantan Sekda Agara, Marten Desky dan mantan pemegang kas Bupati Agara, Muhammad Yusuf I.

Lembaga anti korupsi korupsi Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) meminta Kejati Aceh harus memastikan dana kasbon fiktif tersebut mengalir kepada siapa saja selain dua tersangka tersebut, "Siapapun yang telah menerima dana kasbon fiktif itu wajib menajdi tersangka," terang Koordinator MaTA Alfian.

Pada sidang di Pengadilan Tipikor Banda Aceh pada tanggal 18 Desember 2014 lalu, Ibnu Hasyim, mantan Kepala Bagian Keuangan Setdakab Aceh Tenggara (Agara) pada saat kasus kasbon fiktif terjadi, mengaku pernah menerima dana bantuan sosial (Bansos) 2004 sampai 2006 sebesar Rp 1,3 miliar dan telah dikembalikan ke kas negara.

Menurut Alfian, meskipun pejabat tersebut telah mengembalikan uang negara yang diterimanya dalam kasus kasbon fiktif, namun proses pengembalian itu tidak menghapus sifat yang melawan hukum. "proses hukum tetap harus berlanjut,'ujarnya.

Koordinator MaTA ini menyebutkan, seharusnya KPK harus terus mengawasi penyelesaian perkara korupsi yang telah dilimpahkan ke Kejaksaan maupun ke Polri.

Informasi yang diperoleh waspada, penyidik Kejati Aceh beberapa waktu lalu telah memanggil kembali Marten Desky untuk dimintai keterangan seputar dana kasbon fiktif sumber dana APBK Aceh Tenggara, pemanggilan itu menurut sumber untuk mencari tersangka baru.

Sementara itu pihak Kejati Aceh saat dikonfirmasi masih belum bisa memberikan keterangan terkait kasus kasbon fiktif Aceh Tenggara, "Kasus ini masih dalam penyelidikan jadi belum bisa kita berikan keterangan," ujar Kasipenkum Amir Hamzah.

Perkara korupsi APBD Agara tersebut terjadi pada 2004-2006. Kasus ini awalnya ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta dan menetapkan seorang tersangka, yaitu mantan Bupati Agara, Armen Desky. Pada tahun 2009, Armen Desky dihukum KPK selama 4 tahun penjara dan sejumlah denda.

Mei 2012, KPK kemudian menyurati Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh untuk mengusut kembali kasus ini. Penyidik Kejati selanjutnya menetapkan dua tersangka (kini terdakwa), mantan Sekda Marthen Deski dan mantan Pemegang Kas M Yusuf I.
Sumber : EpeperWaspada

Komentar

Loading...