Aktivis Desak RUU Penghapusan Kekerasan Seksual Dibahas Dengan Serius

Aksi unjukrasa kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak @Acehportal

@Acehportal
@Acehportal

Banda Aceh, (Acehportal) - Puluhan aktivis dari berbagai LSM dan komunitas yang tergabung dalam Solidaritas Aceh untuk korban kekerasan seksual, menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Rabu (11/05/2016), guna mendesak Pemerintah serius membahas pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual.

Sebab dinilai makin meningkatnya angka kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Indonesia, khususnya di Aceh.

Dalam aksi yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB itu, mereka mengenakan pita hitam di lengan baju sebelah kiri, membawa poster bertuliskan tuntutan serta berorasi. Selain itu, mereka juga meniup peluit, pertanda bahaya, karena kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak makin meningkat.

Koordinator Aksi, Eva Khovivah mengatakan, aksi solidaritas dari Aceh untuk korban kekerasan seksual di Aceh, Bengkulu, Manado, Kupang, Boyolali, serta di daerah lain.

"Kami mendesak pejabat Pemerintah untuk meneguhkan sikapnya secara serius berkomitmen atas pembahasan-pengesahan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual. Korban harus diperhatikan hak-haknya atas keadilan, kebenaran dan pemulihan, serta jaminan atas ketidakberulangan," ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya mendorong pemerintah bagi para korban kekerasan seksual dibuat kerangka penghukuman yang perspektif dan adil bagi korban. Karena hukuman kebiri dan hukuman mati khususnya bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak, selain tidak menjamin ketidak berulangan kasus kekerasan seksual, juga bertentangan dengan peraturan perundang-undang lainnya.

"Kami juga ingin mengajak seluruh pihak, bahwa pendidikan publik tentang penghormatan atas tubuh, martabat dan seksualitas perempuan dan anak serta berbagai upaya untuk pencegahan kekerasan seksual harus dimylai sejak dini, dan pemerintah memberikan dukungan dan komitmennya yang nyata dan dapat dipertanggungjawabkan," sebutnya.

Berdasarkan catatan dua tahunan Jaringan Pantau Aceh (JPA), 231 kekerasan seksual rentan dialami oleh perempuan dan anak. “Banyak pelaku yang ditemukan orang terdekat korban,” ujarnya.

Ditambahkanya, dalam ranah domestik (rumah tangga) ditemukan 27 kasus kekerasan seksual dialami anak, yakni pemerkosaan sedarah. Sedangkan di ranah publik (masyarakat), kekerasan seksual juga meningkat, yakni pada 2013 ada 45 kasus, lalu 2014 meningkat menjadi 57 kasus.

"Bahkan pada 2015 bukan menurun, tapi malah meningkat. Hasil dokumentasi JPA 231 kasus dan P2TP2A Aceh mencatat 84 kasus," sebutnya, sembari menambahkan, pemerkosaan merupakan kasus tertnggi.

Sementara berdasarkan catatan  Komnas Perempuan, dari total 400.939 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan masyarakat selama 13 tahun terakhir, 93.960 kasus atau 23 persen diantaranya adalah kekerasan seksual. (adi)

Komentar

Loading...