Gubernur Ingin Tradisi Mengaji Dibumikan di Aceh

@Dokumentasi

@Dokumentasi
@Dokumentasi

Banda Aceh, (Acehportal) - Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, menyebutkan mengaji adalah aktifitas ibadah yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh sebagai bentuk pendidikan keagamaan yang menjadi tradisi turun temurun. Namun tak bisa dipungkiri, kebiasaan mengaji seusai magrib mulai berkurang seiring berkembangnya kemajuan zaman. Karena itu, gubernur meminta, agar masyarakat kembali membumikan mengaji di Aceh.

"Mengaji seharusnya merupakan tradisi yang dilakukan sehabis maghrib, kini mulai berkurang. Arus modernisasi zaman dan perkembangan teknologi informasi telah melahirkan pergeseran budaya, kultur dan tradisi masyarakat kita, sehingga muncul perubahan sosial yang berimbas dengan tergerusnya budaya lokal yang sarat dengan ibadah dan kegiatan Islam,” ujar gubernur dalam sambutan yang disampaikan Asisten II Sekretariat Daerah Aceh, Azhari Hasan, saat penutupan Nusantara Mengaji, di Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, Banda Aceh, Minggu (08/05/2016).

Karena itu, Gubernur atas nama pemimpin Pemerintah Aceh sangat mendukung acara Nusantara Mengaji. “Gerakan Nusantara Mengaji yang digagas oleh Bapak Muhaimin Iskandar sangat layak untuk kita dukung bersama agar semangat mengaji tetap terpaku di dalam hati setiap muslim di tanah air.”

Gubernur menyebutkan, banyak alasan mengapa Gerakan Nusantara Mengaji harus disukseskan bersama. Acara keagamaan seperti itu merupakan satu cara yang efektif untuk membumikan Al-Quran di nusantara dan memperkokoh fondasi umat Islam di Indonesia.

Di samping itu, kaum muslimin di tanah air akan semakin mencintai Al-Qur’an, sehingga akan semakin banyak muslim yang mampu mengamalkan dan mengimplementasikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Nusantara Mengaji ini juga sangat efektif untuk mencegah dekadensi atau kemerosotan moral anak bangsa,” ujar gubernur. Gerakan Nusantara Mengaji, tambahnya, juga dapat memperkuat persaudaraan dalam mendoakan bangsa bersama-sama untuk mampu menghadapi berbagai tantangan.

Gubernur meminta agar kegiatan Nusantara Mengaji bisa menjadi gerakan yang terus berkelanjutan. “Melalui pelaksanaan khatam Al-Qur’an yang kita laksanakan ini, mari kita jadikan awal yang baik untuk senantiasa menggelorakan semangat mengaji sebagai tradisi masyarakat Aceh yang harus terus kita pertahankan dan tingkatkan.”

Seperti diketahui, sebanyak 8.000 lebih jamaah yang sebagian besarnya adalah para santri mengikuti acara Khataman Al-Quran Serentak Se-Indonesia. Di Indonesia, diperkirakan ada 300.000 orang yang mengkhatamkan Quran secara serentak pada hari ini. Tapi, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan, Marwan Jafar  menyebutkan, acara ini, diperkiran diikuti oleh 350.000 jamaah lebih.

"Kita tidak akan berhenti di sini saja. Ini menjadi tonggak gerakan keagamaan melalui bacaan Quran. Ini gerakan serentak satu-satunya di dunia dan wajib hukumnya untuk diteruskan,” ujar Menteri Marwan.

Marwan menyebutkan, acara penutupan dilakukan di Majid Baiturrahim Ulee Lheue, karena masjid tersebut punya sejarah panjang. Apalagi diketahui masjid tersebut luput dari amukan air bah tsunami, 2004 silam. “Masjid ini berdiri tegak dan kokoh meski dihantam tsunami. Artinya kita semua harus meyakini adanya alam gaib,” ujar Marwan.

Sementara Wakil Wali Kota Banda Aceh, Zainal Arifin, menyebutkan, dengan acara tersebut telah resmi ditutup, bukan berarti masyarakat tidak lagi membaca Quran. Ia meminta agar para jamaah membumikan memmbaca Qura, minimal satu hari satu halaman Quran.

Selain Menteri Desa dan Asisten II Setda Aceh, acara penutupan Khatam Quran serentak tersebut ikut dihadiri Pimpinan Majelis Zikir Rasulullah, Samunzir, Ustadz Zamhuri Husain, Ustadz Amin Chusaini, Bupati Aceh Utara, dan Rektor Unsyiah.

Komentar

Loading...