Anies Baswedan: UN Tidak Lagi Jadi Syarat Kelulusan

@jatimtech.com

@jatimtech.com
@jatimtech.com

Jakarta, (Acehportal) - Ujian Nasional (UN) tidak lagi menjadi syarat utama kelulusan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengungkapkan, kelulusan para siswa kini ditentukan oleh nilai semua mata pelajaran.

"UN seperti tahun lalu kita sudah mulai tidak lagi menjadi syarat kelulusan, ditentukan oleh semua mata pelajaran. Bukan hanya mata pelajaran yang di-UN-kan. Dengan begitu lulus atau tidaknya memang lengkap, termasuk pelajaran Pancasila dan agama itulah yang menentukan kelulusan," ujar Anies kepada wartawan.

Hal ini disampaikannya usai meninjau pelaksanaan UN di SMPN 114, Koja, Jakarta Utara, Senin (9/5/2016). Hari ini merupakan hari pertama diselenggarakannya UN tingkat SMP.

Anies menekankan nilai bukan lagi menjadi patokan utama dalam UN. Yang terpenting, kata Anies, adalah kejujuran dalam proses mengerjakan soal UN.

"Dengan adanya indeks integritas itu, UN bukan hanya dilihat hasil ujiannya tetapi juga dilihat hasil kejujurannya. Ada 1.700 sekolah yang mendapatkan piagam integritas dari sekitar 80 ribu sekolah. Jadi kita masih punya PR besar karena baru 11 ribu yang masuk klasifikasi jujur," sambungnya.

"Jadi kalau masuk sekolah lihat di serambinya. Jika ada piagam besar ukurannya bertuliskan berintegritas artinya sekolah ini jujur dalam melaksanakan UN, jika tidak ada maka tidak jujur. Kita ingin semua sekolah ini jujur," kata Anies.

Anies menyebut untuk mengukur kejujuran seseorang itu jauh lebih sulit ketimbang kecurangan. Sehingga, soal UN dibuat dengan menggunakan teknik untuk menjadi alat pengukurnya.

"Jadi menilai pola kejujuran UN-nya itu menggunakan pilihan berganda, di sekolah yang sama bayangkan isinya sama, jawabannya sama benarnya sama, salahnya sama di 70 persen sekolah atau 70 siswa di suatu sekolah. Jadi dilihat dari situ polanya, kemudian diterjemahkan dalam bentuk angka. Ini bukan hal baru ini sudah digunakan tekniknya di beberapa perguruan tinggi," lanjut dia.

"Teknik penilaian itu bisa diketahui apakah hasil kerjasama atau beda-beda karena polanya beda. Seperti sidik jari kalau misalnya banyak yang sama berarti pasti ada yang salah. Kecurangan dalam UN bertahun-tahun kita ketahui, tapi kita diam saja. Kita tidak diam kali ini, salah satunya mengunakan indeks integritasnya," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Anies mendatangi SMPN 114 di Koja, Jakarta Utara untuk meninjau pelaksanaan UN hari pertama. Di sana, Anies sempat menemui seorang siswi tunanetra bernama Riski Amalia Putri. Anies menyemangati Amalia agar dapat mengerjakan soal ujian Bahasa Indonesia di hari pertama ini.

Anies meminta agar Amalia tak sungkan bertanya kepada guru pendampingnya. Sekolah memang menyiapkan guru pendamping untuk memudahkan pembacaan soal dan penulisan jawaban di lembar yang khusus tercetak huruf braille.

Total siswa yang mengikuti UN SMP/Mts di seluruh Indonesia yang mengikuti Ujian Nasional Kertas Pensil (UNKP) sebanyak 4.052.068 siswa dan yang mengikuti UN Berbasis Komputer sebanyak 156.320 siswa. (detik.com)

Komentar

Loading...