Dewan Menduga Terjadi Mark Up pada Pengadaan 100 Unit Mesin Perontok Padi

Sejumlah Anggota DPRK Abdya,saat melakukan sidak terkait mesin perontok padi di gudang BBU kecamatan Tangan-Tangan, Rabu (4/5/2016)"acehportal.com

Sejumlah Anggota DPRK Abdya,saat melakukan sidak terkait mesin perontok padi  di gudang BBU kecamatan Tangan-Tangan, Rabu (4/5/2016)
Sejumlah Anggota DPRK Abdya,saat melakukan sidak terkait mesin perontok padi di gudang BBU kecamatan Tangan-Tangan, Rabu (4/5/2016)"acehportal.com

Blangpidie, (Acehportal) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Aceh Barat Daya menyatakan, bahwa pengadaan sebanyak 100 unit mesin perontok padi jenis pedal thrasher sama sekali tidak sesuai dengan yang tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).

“Kami menduga terjadi Mark Up dalam pengadaan 100 unit mesin perontok padi, karena  dalam DPA Satuan Kerja Perangkat Kabupaten(SKPK) Abdya yang  tercantum adalah jenis power thrasher bukan jenis pedal thrasher,”ungkap Anggota DPRK Abdya Zulkarnain saat melakukan Inpeksi mendadak (Sidak) ke Gudang Balai Benih Unggul (BBU), di Kecamatan Tangan-Tangan, Abdya, Rabu (4/5/2016).

Ia menyatakan, dirinya bersama sejumlah Anggota DPRK Abdya lainnya sengaja melakukan sidak untuk melihat langsung jenis mesin perontok yang merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Abdya melalui Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) setempat. “Karena ada isu bantuan mesin perontok dari Pemkab itu tidak memiliki merk dagang sehingga kami melakukan sidak,”pungkasnya.

“Pengadaan sebanyak 100 unit mesin perontok itu menelan anggaran mencapai Rp. 1,1 milyar yang dana berasal dari Otonomi Khusus (Otsus) 2015,”kata Zulkarnain, kepada Acehportal.com.

Zulkarnain juga menyatakan, bahwa pengadaan mesin perontok padi ini tidak sepengetahuan Dewan. “Dinas tidak pernah komunikasi dengan kami, bahkan nomor Hp Kadis pun tidak ada sama kami,"pungkas Zulkarnain yang juga selaku Ketua bidang pengawasan.

“Kami akan meminta penjelasan terkait merk mesin yang tidak memiliki merk dan SNI itu kepada dinas terkait. Namun, dari peryataan Mahyudin Kabig Distanak Abdya, pengadaan 100 unit mesin itu dibeli berdasarkan E-Katalog yang sudah sesuai dengan aspek,”jelasnya mengutik peryataan Kabig tersebut.

Menurut dia, pasti ada kesepakatan terkait pembelian seratus unit mesin perontok yang menelan anggaran sebesar Rp.1,1 milyar. Tapi belum bisa kita pastikan kesepakatan dengan siapa yang jelas dewan tidak sepakat, dan tidak mengetahui.

Menanggapi permasahalan tersebut, Mahyuddin mengatakan, pihaknya akan berkomunikasi terlebih dahulu dengan PPK. karena pengadaan tersebut beriringan dengan pasca panen padi.

Ia menjelaskan, Power thraser tersebut ada beberapa model diantaranya, ada yang sebaguna, ada yang khusus untuk perontok padi, ada yang untuk perontok jagung, dan kedele, bahkan ada model biasa seperti yang sering digunakan di wilayah abdya dan ada juga model pedal.

"Mesin perontok jenis pedal thrasher harganya sangat jauh berbeda yakni Rp.19 juta per satu unit, dan kami meminta ditenderkan pada bulan juli 2015 lalu,"katanya.

Mahyudin juga menyebutkan, Theser yang ada di wilayah setempat enggan disebut merk, bahkan dilarang menulis merk, sudah diajukan untuk masuk ke LKPP, bahkan sampai saat ini belum terdaftar.(Mus).

Komentar

Loading...