Bea Cukai Musnakan 15,8 Ton Gula Ilegal Dimusnahkan

foto: analisa

foto: analisa
foto: analisa

Banda Aceh, (Acehportal) - Sebanyak 15,8 ton gula illegal dan puluhan ton barang milik negara (BMN) lainnya dimusnahkan di Ban­da Aceh, Selasa (3/5). Barang-barang tersebut merupakan hasil penindakan di beberapa tempat di Banda Aceh dalam kurun 2014-2015.

Pemusnahan dilakukan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC-TMP) C Banda Aceh, bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Aceh dan beberapa instansi terkait lainnya.

Selain gula, turut dimusnahkan pula 2,3 ton beras ketan, 1,8 ton beras ti­dak layak konsumsi, 31 kardus pa­kaian bekas, 126.000 batang rokok da­lam 783 slop, dan sejumlah barang ile­gal lainnya. Pemusnahan dilakukan de­ngan cara dibakar dan ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir, Kampung Jawa Banda Aceh.

Kepala Kantor Wilayah DJBC Aceh, Rusman Hadi, mengatakan, gula yang disita itu merupakan barang impor yang tidak memenuhi ketentuan dan tidak dilengkapi dengan dokumen kepabeanan.

Pemusnahan juga dilakukan terha­dap barang impor tidak layak kon­sumsi yang menjadi barang dikuasai ne­gara (BDN), yakni sebanyak 10,5 ton bawang merah.

“Barang-barang ini merupakan barang impor ilegal karena tidak me­menuhi ketentuan dan tidak dileng­ka­pi dengan dokumen kepabeanan yang dipersyaratkan,” ungkapnya.

Diungkapkan, potensi kerugian negara akibat masuknya barang impor ilegal dimaksud mencapai Rp70 juta lebih karena dengan masuknya barang ilegal seperti gula telah membunuh pe­tani tebu lokal dan juga petani bawang dalam negeri.

“Setiap barang impor itu harus dilengkapi dengan dokumen importir, seperti surat persetujuan impor dan laporan surveyor. Pemilik barang-ba­rang ini tidak bisa menunjukkan dokumen itu,” ujarnya.

Pelaksanaan pemusnahan BMN dan BDN dipimpin Kepala Kantor Wi­la­yah DJBC Aceh didampingi Abdul Harris (Kepala KPPBC-TMP C Ban­da Aceh), dan disaksikan Joko Irwanto (Direktur Kriminal Khusus Polda Aceh) dan Kemas A Yani (utusan Dan POM IM), dan beberapa kepala dinas/instansi terkait lainnya.

Abdul Harris menambahkan, da­lam kurun 2015 sampai April 2016, KPP­BC TMP C Banda Aceh telah melakukan 70 kali penindakan terha­dap barang-barang ilegal. Barang di­mak­sud di antaranya, 46 ton gula pasir, 22,8 ton beras ketan dan 1,631 gram me­tamfetamin senilai lebih Rp3 miliar.

“Atas barang yang menjadi BMN tersebut, saat ini sedang kami proses dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Kini masih dalam proses persetujuan Menteri Keuangan. Pilihan dari BMN tersebut adalah di­musnahkan, dihibahkan atau dile­lang,” katanya.

Diungkapkan pula, Februari lalu, KPPBC TMP C menghibahkan 25 ton gula pasir dalam 500 karung kepada Dinas Sosial Aceh berdasarkan per­setu­juan Menteri Keuangan.(Analisa)

Komentar

Loading...