Banyak Perusahaan di Aceh Tak Mampu Bayar UMP

Ilustrasi @analisadaily.com

Ilustrasi @analisadaily.com
Ilustrasi @analisadaily.com

Banda Aceh, (Acehportal) - Pengurus Serikat Pekerja Aceh, Habibi Inseun mengungkapkan, banyak perusahaan di Aceh yang tidak mampu membayar upah para pekerja sesuai upah minimum provinsi (UMP) yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Aceh sebesar Rp2,1 juta per bulan. Bahkan, ada juga perusahaan yang sama sekali tidak membayar upah para pekerjanya.

Tindakan yang dilakukan para perusahaan ini sama sekali sudah melanggar peraturan pemerintah dan Undang Undang Ketenagakerjaan. Untuk itu, Pemerintah Aceh harus mengambil sikap tegas terhadap perusahaan yang bandel tersebut, agar bisa memenuhi hak-hak para pekerja.

Bila perusahaan tidak memenuhi hak-hak pekerja, dapat dikenakan sanksi pidana. Namun, sejauh ini tidak ada perusahaan yang dipidanakan. Maka serikat pekerja/buruh, meminta agar pemerintah menekan perusahaan tersebut agar bisa merealisasi keputusan pemerintah akan UMP.

“Sampai saat ini tidak ada perusahaan yang keberatan dengan ketetapan UPM Aceh yang ditetapkan pemerintah, namun mereka tidak mematuhi keputusan atau ketetapan tersebut,” ungkap Habibi kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu (27/4).

Dikatakan, meskipun masih banyak pekerja yang masih menerima upah di bawah UMP, para buruh di Aceh mengharapkan adanya peningkatan kesejahteraan dengan upah layak menjadi Rp2,8 juta, dari UMP sebelumnya yang telah ditetapkan pemerintah Rp2,1 juta.

Menurut Habibi yang juga Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), upah merupakan indikator daya beli. Dengan rendahnya upah, berarti daya beli masyarakat juga sangat rendah. Bila ini terjadi, maka pertumbuhan ekonomi juga tidak baik.

Untuk itu, ujar Habibi, sudah selayaknya pemerintah atau pihak yang dirugikan mempidanakan para perusahaan yang membangkang ini dilaporkan ke pihak kepolisian. Namun, bila itu juga tak bisa dilakukan, maka SPI akan melakukan hal tersebut dengan melaporkan perusahaan ke polisi.

Sumber: analisadaily.com

Rubrik:News

Komentar

Loading...