Black Campaign ‘Trik’ Asing Tekan Industri Sawit

ilustrasi sawit @Int
ilustrasi sawit @Int

Medan, (Acehportal) - Kampanye hitam (black campaign) yang terus mendera industri sawit Indonesia dinilai hanya 'trik' negara asing khususnya Uni Eropa untuk menekan industri sawit. Sebab, mereka khawatir negara pengimpor sunflower (bunga matahari), soya bean dan rapeseed (minyak kanola), akan beralih ke sawit.

"Sawit Indonesia selalu dibilang tidak sustainable (berkelanjutan). Padahal jika dilihat dari jumlah produksi, masih jauh di bawah bunga matahari, soya bean dan rapeseed. Jadi kenapa hanya sawit yang kerap 'dihantam'. Sustainable bukan hanya kelapa sawit. Ini perlu karena luas maupun produksi ketiga produk tersebut ratusan hektare. Tapi kenapa tidak pernah diributkan," kata Sekjen DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Asmar Arsjad, disela-sela Pameran kelapa sawit International Palm Oil Exhibition (INPALME) di Hotel Santika Medan, Kamis (21/4).

Berdasarkan data Apkasindo, luas lahan tanaman kelapa sawit Indonesia sekitar 18,8 juta hektare. Sementara luas lahan bunga matahari 41 juta hektare, soya bean sekitar 103 juta hektare dan lahan rapeseed sekitar 27 juta.

Indonesia memang tercatat masih menjadi penghasil minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dunia dengan kontribusi 53% atau 37 juta ton dari total 62 juta ton. Masih di atas Malaysia yang hanya 37%. Dari jumlah produksi tersebut, Indonesia mengekspor 23 juta ton CPO setiap tahunnya.

Dikatakan Asmar, tanaman sawit bisa menghasilkan produksi lebih tinggi dengan jumlah lahan yang sama dengan bunga matahari, soya bean dan rapseed. Sebab, untuk menghasilkan produksi 1 ton, sawit hanya memerlukan lahan seluas 0,26 hektare.

Sementara 1 ton bunga matahari memerlukan lahan 2 hektare, lalu soya bean 2,2 hektare dan rapeseed butuh lahan 1,15 hektare. "Tentu tantangan industri sawit masih sangat banyak. Isu lingkungan hingga deforestasi selalu mengantam. Namun, tentu harus ada upaya-upaya terutama pelaku sawit dan pemerintah agar industri ini terus tumbuh. Karena bisa menyerap sangat banyak tenaga kerja," kata Asmar.

Ketua Konferensi Kelapa Sawit International Palm Oil Conference (INPOC) Sarmunah mengatakan, masih banyak isu kelapa sawit yang harus mendapatkan perhatian serius. Karenanya, perlu upaya untuk menekan berbagai kampanye negatif terkait kelapa sawit.

"Konferensi seperti ini diharapkan bisa mendapatkan berbagai agenda penting bagi industri sawit. Karena pelaku industri kelapa sawit lokal maupun internasional termasuk pengusaha dan pengambil keputusan dari hulu ke hilir seperti produser, konsumen, distributor, trader, supplier, ilmuwan, akademisi, hingga analis ikut mencari dan membicarakan apa saja yang penting untuk mengembangkan industri sawit," katanya.

Kampanye hitam yang dilakukan oleh sejumlah negara, menurut pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin, menjadi satu faktor penghambat produktivitas sawit nasional. Sejauh ini yang melandasi kebijakan tersebut adalah karena sawit merusak lingkungan. "Apapun alasan yang mereka keluarkan, saya menilai hal itu sangat mengganggu kepentingan industri sawit secara nasional," katanya.

Sawit memiliki produk turunan yang cukup banyak sehingga mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan. Sayangnya sawit hanya tumbuh baik di wilayah tropis seperti Indonesia dan Malaysia. Sehingga menurut Gunawan, apapun alasan yang mendasari terjadi boikot produk olahan sawit sangat mungkin karena ada kepentingan bisnis. "Kita memang sangat potensial mampu membangun industri sawit lebih besar lagi. Dan sangat berpeluang menggantikan produk turunan dari biji-bijian seperti kedelai dan biji matahari yang diproduksi oleh negara-negara maju," kata Gunawan.

Ditambahkannya, industrilisasi di sektor sawit akan banyak mendatangkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Namun yang perlu diprioritaskan adalah bahwa Indonesia harus mampu membangun industri sawit dan menopang semua kebutuhan masyarakat dengan hilirisasi. "Satu hal yang saya percaya bahwa nilai keekonomian sawit yang jauh lebih besar dibandingkan produk biji-bijian di negara maju yang membuat mereka mengkhawatirkan sawit berpeluang menggantikan industri biji-bijian mereka. Selain isu masalah lingkungan tentunya," pungkas Gunawan.(MedanBisnis)

Komentar

Loading...