PT. Ambagiri Nusantara Tingkatkan Kesuburan Lahan di Aceh

acehportal.comIlustrasi Padi

padi/ilustrasi (acehportal)
padi/ilustrasi (acehportal)

Banda Aceh, (Aceh Portal) - Dalam usaha pencapaian target swasembada pangan nasional yang menjadi program Kementrian Pertanian RI, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik swasta sebagai penyedia produk,   Perguruan Tinggi dan petani sebagai subjek.

Untuk mencapai target swasembada pangan, khususnya di provinsi Aceh, Balai Pengkajian dan teknologi Pertanian (BPTP) Aceh melakukan kerjasama dengan PT. Ambagiri Nusantara sebagai produsen pupuk hayati cair Octabacter.

Kerjasama yang dilakukan kedua belah pihak antara BPTP dengan PT. Ambagiri Nusantara untuk menjaga sumberdaya (kesuburan lahan) melalui penerapan teknologi pemupukan berimbang yang ramah lingkungan.

Manager PT. Ambagiri Nusantara Cabang Aceh, Gunawan Hadi Wibisono menyebutkan, banyak kondisi lahan sawah di Provinsi Aceh kurang respon terhadap pupuk, karena setiap musim tanam lahan itu selalu dijejali dengan bahan kimia.

“Itu dilakukan petani untuk mencapai target produksi yang tinggi. Namun, akibat penggunaan pupuk kimia terus menerus akan membuat lahan sawah semakin rusak,”ujar Gunawan, Minggu (17/4) di banda Aceh.

Menurut dia, dampak penggunaan pupuk kimia yang berlebihan banyak terjadi masalah, karena lahan menjadi rusak dan tandus, keasaman tanah tinggi, berkurangnya habitat/ekosistem lahan (mikroba dan cacing tanah) serta muncul berbagai macam hama dan penyakit.

Untuk itu, katanya, lahan pertanian di provinsi paling ujung barat Indonesia ini butuh perhatian dan perawatan untuk pulih kembali akibat penggunaan bahan kimia over dosis selama puluhan tahun. “Oleh karena itu, kita bersama BPTP Aceh terus mensosialisasikan dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya   menjaga kesuburan lahan melalui penerapan teknologi pemupukan berimbang yang ramah lingkungan,”ungkapnya.

“Untuk itu, Ia menganjurkan petani di Aceh agar dapat mengunakan pupuk organik, karena pengunaan pupuk organik telah  mampu memberikan jawaban dan solusi untuk meningkatkan   kesuburan lahan pertanian,”sebutnya.

Dalam memperkenalkan produknya, pihaknya selalu mendampingi dan turun ke sawah bersama penyuluh. Dengan memberikan formula dan dosis yang tepat disertai metode penerapan di lapangan.

Dikatakannya, dengan pemupukan berimbang, mengurangi pupuk kimia dan menambah pupuk organik dapat meningkatkan hasil yang lebih baik dan lebih sehat.

Lebih lanjut, Gunawan berharap petani di Aceh meyakini bahwa pemberian bahan organik dapat menjaga dan menitipkan lahan untuk generasi dikemudian hari.

Sementara itu, Kepala BPTP Aceh, Basri A Bakar menyatakan, saat ini inovasi teknologi sudah dipopulerkan istilah tanam padi Jajar Legowo Super.

“Super yang dimaksudkan adalah dengan menambah pemupukan pupuk hayati Cair pada teknologi budidaya,”ujar Kepala BPTP Aceh itu.

Ia juga sepakat untuk pencapaian target swasembada pangan,  dibutuhkan inovasi teknologi. Selama ini pihaknya telah melakukan penerapan sistem tanam   jajar legowo 2:1, pemilihan dan seleksi benih unggul, pengairan yang teratur, pemupukan serta pengendalian hama penyakit.

Menurut dia, selama ini dari tahun 2014 sampai sekarang BPTP Aceh telah menjalin kerjasama dengan PT. Ambagiri Nusantara, bersama-sama dalam membuat demplot-demfarm baik padi dan palawija.

Dikatakannya, dalam musim tanam rendengan 2015/2016 lalu, ada 2 titik demfarm kerjasama BPTP Aceh dengan PT. Ambagiri masing-masing 5 Ha, di Desa Cucum, Kecamatan Kutabaro, Kabupaten Aceh Besa panen sebelumnya 6,7 Ton/Ha naik menjadi 8,8 Ton/Ha, dan di Desa Blang Cut, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar panen sebelumnya 6,5 Ton/Ha meningkat menjadi8,3 Ton/Ha.

Untuk itu, Ia meminta teknologi jajar legowo perlu diterapkan secara masif di Aceh, karena selain meningkatkan hasil, juga dapat mengendalikan serangan hama tikus.

Menurutnya, selama ini sebagian besar petani di Aceh sudah mengadopsi teknologi pemupukan berimbang dan mengurangi dosis pupuk kimia, dengan cara menambahkan pupuk organik (hayati cair).

Pupuk Hayati Cair mampu memulihkan kondisi tanah yang sudah   sakit serta mengembalikan unsur hara ke dalam tanah untuk diserap tanaman, seperti di Desa Lawe Sumur, Kecamatan Lawe   Sumur, Aceh Tenggara.(adi)

Komentar

Loading...