Ketika Kopassus Menggemparkan Dunia

foto: liputan6.com

foto: liputan6.com
foto: liputan6.com

Jakarta - Genap 64 tahun usia Komandan Pasukan Khusus (Kopassus) Republik Indonesia. Tidak sedikit operasi yang berhasil mereka lakukan. Pujian untuk korps baret merah mulai berhembus pada 1981, saat Kopassus menyelamatkan sandera pada kasus pembajakan pesawat DC-9 Garuda di Bandara Don Muang, Bangkok.

Usai pembebasan pada kasus Woyla itu, pers dunia pun mensejajarkan keberhasilan baret merah dengan operasi serupa oleh pasukan elit Jerman dan Israel di Entebbe dan Mogadishu.

''Tak ada kata lain, mereka memang profesional,'' komentar Ketua Delegasi Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Jakarta, Henry Fournier, tentang pasukan pembebas sandera dikutip dari pusat data Republika.co.id, Sabtu (16/4).

The Asian Wall Street Journal pada saat itu juga memuji betapa terorganisirnya Kopassus dalam menjalankan operasi. ''Operasi yang membutuhkan perencanaan dan pengorganisasian tingkat tinggi. Juga butuh keberanian, efisiensi, dan disiplin,'' puji tajuk The Asian Wall Street Journal saat itu.

''Bukan mau membanggakan. Kita mempunyai keunggulan dan kita juga punya kelemahan. Tapi ada beberapa hal yang masih kita miliki disegani oleh beberapa pasukan khusus lain,'' kata Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto pada 21 April 1997.

Dikutip dari pusat data Republika.co.id, baret merah muncul dari inspirasi tentang pasukan kecil, tapi efektif muncul dari ketangguhan sejumlah mantan anggota komando KNIL, Korps Speciale Troepen (KST). Dua perwira Indonesia, Slamet Riyadi dan Alex Kawilarang, yang menyaksikan kehebatan tempur mereka kemudian berencana membuat pasukan serupa.

Slamet Riyadi akhirnya gugur sebelum cita-citanya tercapai. Tapi Kawilarang kemudian mewujudkannya saat ia menjadi panglima Teritorium III Siliwangi.

Pada 1952 terbentuklah Kesatuan Komando Teritorium III berkekuatan satu kompi. Komandan pertamanya adalah seorang mantan KST bernama Visser, yang setelah menjadi WNI berganti nama menjadi Mohammad Idjon Djambi. Markas pasukan komando ini pun mengambil tempat di bekas markas KST di Batujajar, Kabupaten Bandung.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID

Komentar

Loading...