Mantan Reje Kampung Ini Dicambuk 100 Kali

@analisadaily

@analisadaily
@analisadaily

Takengon, (Aceh Portal) -  Mantan Kepala Kampung (Reje Kampung-Gayo-Red) Celala, Keca­matan Celala, Umardi bin M Yusuf (42) dicambuk 100 kali di halaman Gedung Olah Seni (GOS) Ta­kengon, Selasa (12/4).

Umardi bersama pasangannya, Fatimah binti Umar (30), terbukti se­ca­ra sah dan meyakinkan bersalah melakukan jari­mah zina sebagaimana diatur dalam Pasal 33 ayat (1) junto 37 ayat 1 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang hukum jinayat atau pidana Islam.

Setelah setahun disosialisasikan kepada masyarakat di da­taran tinggi Gayo itu, sanksi 100 kali cambuk bagi pelaku zina dan homoseksual baik gay maupun lesbian efektif berlaku. Namun faktanya, bekas aparat kam­pung yang seharusnya jadi pengayom dan ikut mensosialisasikan hukum ji­nayat ini justru tertangkap sedang ber­buat mesum.

Sebelumnya, Bupati Aceh Tengah, Ir H. Nasaruddin, MM sempat menya­takan keprihatinannya dengan adanya aparat kam­pung yang melanggar sya­riat Islam.

Ia juga meng­instruk­sikan agar seluruh aparatur baik di tingkat atas hingga ke desa agar benar-benar menjaga dan memberi contoh yang baik kepa­da masyarakat.

Pelaksanaan uqubat cambuk tidak hanya untuk kedua ter­dakwa ini. Cam­bukan rotan juga harus dirasakan Re­mita Sinaga alias Mak Ucok seba­nyak 28 kali dalam kasus penjualan minu­man keras (khamar).

Demikian pula pasangan zina lain­nya, Sarwan bin Sukirno (20) warga Kampung Wih Lah, Kecamatan Pega­sing dengan Nadia Shofia (26) warga Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala. Keduannya masing-masing mendapatkan tiga kali cam­bukan.

Eksekusi cambuk bagi terdakwa yang dilakukan oleh be­berapa algojo dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Take­ngon sesuai putusan yang dikeluarkan Mahkamah Syari’yah Takengon.

Prosesi cambuk disaksikan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forko­pimda), pegawai dan ratusan warga daerah dingin itu.

Cemoohan banyak dilontarkan oleh warga, apalagi sete­lah diumumkan bahwa yang mela­kukan perbuatan zina adalah man­tan kepala kampung.

Sebelumnya, Kepala Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, Prof. Syahrizal Abbas menyebutkan, setelah setahun disosiali­sasikan kepada masyarakat, kini Qanun Jinayah menjadi pa­yung hukum baru untuk penguatan pene­rapan syariat Islam.

Selain aturan 100 kali cambuk, qanun ini juga mengatur denda de­ngan emas murni bagi pe­lang­gar.

Menurut dia, qanun jinayah adalah penyempurnaan dari tiga qanun sya­riat Islam sebelumnya yang mengatur tentang khalwat (mesum), maisir (judi) dan khamar (minuman keras). Ketiga qanun itu tak berlaku lagi, kare­na materi dan subtansinya sudah dimasukkan dalam Qanun Jinayah.

Selain mengatur larangan khalwat, maisir dan khamar, Qa­nun Jinayah juga mengatur tujuh hukuman pidana baru yakni bagi pelaku zina, liwath (praktik homo seksual), musahaqah (praktik lesbian), ikhtilat (bercumbu tanpa ikatan nikah), qadzaf (menuduh orang lain berzina tanpa bisa menun­jukan bukti dan empat saksi), pele­cehan seksual dan pemerkosaan.

Komentar

Loading...