Rebutan Warisan, Dua Keluarga Saling Bacok

ilutrasi (Merdeka.com)
ilutrasi (Merdeka.com)

Blangpidie - Dilatarbelakangi aksi saling merebut harta warisan berupa dua petak sawah atau sekitar sepertiga hektare, dua keluarga di Desa Tokoh Dua, Kecamatan Lembah Sabil, Aceh Barat Daya (Abdya) saling bacok, Kamis (21/1). Akibatnya, tiga orang harus menjalani perawatan karena menderita luka akibat sabetan parang.

Ketiga korban itu masing-masing Ramaini (38), yang terkena bacokan di kelingking; Nyak Bah (48) luka robek di kepala; dan Hasni (45), lu­ka robek di kepala belakang hingga bahu.

Kapolres Abdya AKBP Hairajadi SH melalui Kasat Reskrim AKP Misyanto, Jumat (22/1) menjelas­kan, awal keributan itu dipicu saling bere­but harta warisan sawah. kedua be­lah pihak mengklaim kalau tanah sawah seluas dua petak itu meru­pakan miliknya.

Berdasarkan informasi yang di­per­oleh, kedua petak sawah yang ter­letak di Desa Tokoh lewat perjan­jian sudah diserahkan kepada pihak desa pada 2015 lantaran telah me­nim­bulkan keributan dari dua ke­luar­ga yang bertikai.

Kemudian, pada awal 2016 pihak desa kembali membuat kepu­tusan dan meminta kepada Marpono (60) selaku wali dari kedua belah pihak untuk mengelola sawah tersebut.

Namun pada saat dilakukan pe­na­naman padi, Marpono meminta Nyak Bah dan Hasni untuk menye­mai bibit di lahan tersebut dan dibayarkan upahnya.

Tidak terima, Ramaini bersama Kam­siah dan Ramli mencabut se­jum­lah bibit padi yang sudah dita­nam di sawah itu sehingga terjadilah keributan dan aksi saling bacok.

“Kami masih  melakukan penye­lidikan terhadap aksi saling bacok ter­­sebut. Untuk proses lebih lanjut kedua keluarga yang bertikai telah kami amankan di Polsek Manggeng dan Polres Abdya berikut barang bukti tiga bilah parang,” ungkapnya.

Sejauh ini proses hukum masih te­rus berlanjut, mulai dari proses penyelidikan hingga mengamankan kedua belah pihak yang bertikai, meskipun tidak tertutup kemung­kinan di tingkat desa akan ada upaya damai. Apabila tidak terjadi perdamaian, proses akan diteruskan ke tingkat selanjutnya.

“Belum ada tersangka yang dite­tapkan, namun kami sudah mela­ku­kan pemeriksaan terhadap kedua belah pihak. Baru ada empat saksi yang kita periksa. Mereka adalah orang yang bertikai,” terangnya.

Jika proses ini berlanjut, tambah Mis­yanto, terhadap tersangka akan dikenakan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman ku­rungan maksimal lima tahun.

Menurut informasi dari warga setem­pat, kasus serupa pernah ter­jadi pertama kali pada 2015. Na­mun, akhirnya didamaikan oleh pe­me­rintah desa sehingga lahan terse­but dikuasai oleh pihak desa semen­tara waktu sebelum diserahkan kepada Marpono untuk menggarap lahan itu.

Sumber: Analisa

Komentar

Loading...